Dua Hal Tentang Nasihat-Menasihati

Memberi nasihat itu bukannya mudah. Apalagi kalau ingat  ada konsekuensi berat jika sang penasihat tak bertingkah laku sebagaimana petuah yang dia tebar. 

Karena itu kontrol diri harus ketat dijalankan sebelum merapikan sikap orang lain. Idealnya, aqidah, akhlaq, ibadah, hingga mu’amalah terhadap keluarga, tetangga, kerabat sebisa mungkin sudah sepi dari masalah. Sebab selain ia kelak diharap mampu membantu problematika ummat, mau tak mau orang juga akan meneliti kehidupannya dan menilainya. Apakah ia memang pantas dijadikan panutan atau malah jadi gunjingan. Jangan sampai dapat resiko terparah yaitu dibenci Allah di dunia dan akhirat. (Qs. Ash-Shaaf : 4)

Ya Rabb. Faghfirliiy…
*gemeteran istighfar*

Di sisi penerima nasihat juga tak kalah berat. Butuh mental kuat, dada lapang dan tawadhu’ tingkat salafushalih untuk menelan setiap teguran atas kekhilafan atau kekeliruan. Dengan begitu segala bentuk masukan sekalipun disampaikan secara keras niscaya tak kan melukai bila hati bersih dan pikiran selalu positif. 

Konon orang-orang yang tegar menerima kritik adalah mereka yang mudah mendulang sukses, disebabkan mereka segera beraksi setelah dinasehati serta berusaha memperbaiki kesalahan ketimbang mencari pembenaran. Tak heran selain mereka sangat menghargai dan dihargai oleh siapa saja, juga seorang pendengar yang sabar.

*****

Satu hal yang mesti dicamkan dan diamalkan oleh penasihat dan penerimanya adalah selalu meluruskan niat. Adapun  indikasi sebuah petuah (yang tersampaikan ataupun terserap) dilandasi cinta karena Allah adalah ketika ia tak membuat rasa sayang di antara kedua pihak berubah meski sehelai rambut pun. 

Seorang penasihat yang ikhlas adalah ia yang enggan menonjolkan butiran amalnya maupun kefaqihan ilmunya di hadapan saudara yang dinasihati sehingga tak pernah nampak menggurui. Ia juga tidak mudah gusar dan putus asa manakala nasihatnya ditolak dengan cara halus maupun kasar. Kasih sayangnya tak pudar meski kata-katanya seringkali diabaikan. 

Sementara ketulusan penerima nasihat terbukti bila ia tak serta merta merasa hina (minder), marah atau bahkan menyimpan dendam ketika ditegur kekeliruannya. Ia pun tak gemar melempar kesalahan pada orang lain saat dirinya menjadi fokus perbaikan. Justru dia senantiasa berterimakasih telah diingatkan dan bertambah pula rasa syukurnya pada Allah ta’ala. (Vienna)