Jokowi, Ahok, dan Batu Akik

Dua bulan terakhir ini ada yang berbeda di Pasar Batu Akik Rawa Bening Jatinegara. Deretan panjang mobil pick up berisikan batu-batu berukuran besar berbaris rapi di seberang jalan pasar tersebut. Ramai orang berkerumun. Mereka adalah calon pembeli bongkahan batu yang menjadi cikal bakal batu akik. Saat menyaksikan pemandangan itu, saya jadi teringat Jokowi dan Ahok.

Siapa yang mengenal Jokowi sebelum tahun 2012? Tak banyak. Bisa jadi hanya masyarakat Solo, Jawa Tengah karena Jokowi adalah walikota dua periode berturut-turut. Nama suami Iriana itu baru moncer saat Pilgub DKI Jakarta menjelang. Tak ada media massa yang tak memberitakannya. Lantas Jokowi pun melesat jadi tokoh nasional. Tak butuh lama untuk menjadikan pengusaha kayu itu sebagai publik figur.

Siapa pula yang mengenal Basuki Thahaja Purnama sebelum tahun 2012? Lelaki yang akrab dipanggil Ahok itu hanyalah tokoh lokal nun jauh di sana. Ia cuma Bupati Belitung Timur yang tak menuntaskan masa jabatannya. Namun, seperti Jokowi, namanya meroket ketika Pilgub DKI menjelang. Media massa kompak melambungkan nama Ahok ke pentas nasional.

Secepat kilat nama Jokowi dan Ahok menjadi buah bibir, terlebih saat keduanya dipasangkan sebagai calon Gubernur dan Wagub DKI Jakarta periode 2012-2017. Keduanya dicitrakan sebagai pasanga pemimpin yang dapat membawa perubahan dan dibutuhkan masyarakat. Mitos pun menyelimuti Jokowi Ahok sehingga mereka terpilih memimpin Jakarta.

Hingga kini, saat peta politik sudah berubah, nama keduanya pun terus saja dicitrakan positif oleh media massa. Jokowi yang sudah menjadi presiden, dan Ahok yang ditunjuk menggantikan Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta seolah barang istimewa tanpa cacat. Mereka bagai nabi yang tiada berdosa dan tak berbuat salah.

Pertanyaan selanjutnya, siapa yang mengenal batu akik sebelum awal tahun 2015? Tak banyak. Hanya para penggemar atau yang hobi batu akik. Tapi kini, masyarakat menjadi demam batu akik. Hampir di setiap sudut jalan kita menemukan penjual batu akik. Dan Pasar Rawa Bening yang menjadi pusat penjualan batu akik mendadak ramai. Padahal biasanya pengunjung yang datang tak sebanyak saat ini. Plus deretan mobil pick up berisikan bongahan batu yang kerap saya saksikan setiap pagi saat menuju ke kantor.

Nama jenis batu akik menjadi akrab di telinga kita. Bacan, Kalimaya, Giok, Ruby, Safir, Zamrud dan lainnya sering menjadi tema pembicaraan di warung kopi hingga arisan keluarga. Harganya pun melambung tinggi. Batu akik mendadak menjadi barang mewah yang diburu masyarakat.

Jokowi, Ahok dan batu akik memiliki kesamaan. Ketiganya sudah ada sejak lama dan hanya dikenal oleh segelintir orang. Tapi ketiganya mendadak tenar dalam waktu sangat cepat. Apa yang bisa kita simpulkan?

Selera publik itu bisa kita create. Pasar itu dapat kita bentuk. Dan opini itu dengan sangat mudah mampu kita giring. Ketiganya dapat dilakukan jika kita memiliki jaringan media dan kemudian memberitakan secara massif setiap hari, setiap jam hingga setiap menit. Kalaupun kita tak punya network tapi memiliki dana besar, maka cukup “membeli” media untuk membuat berita sesuai pesanan kita.

Cara seperti ini memang sudah terbukti banyak berhasil. Jokowi, Ahok dan batu akik adalah contohnya. Namun, sayangnya ini hanya bersifat sementara atau musiman. Seiring perjalanan waktu, masyarakat yang terpesona dengan Jokowi, Ahok dan batu akik akan tersadarkan dengan sendirinya. Mereka perlahan akan meninggalkannya.

Bukankah itu yang dulu terjadi pada tanaman anthurium atau gelombang cinta? Diburu orang dan berharga mahal, namun kini tak ada kabar beritanya. Akankah Jokowi, Ahok dan batu akik bernasib serupa?

Ah…Rasanya saya tak perlu bertanya kepada orang-orang yang asyik masyuk membeli bongkahan batu di Pasar Rawa Bening.

Erwyn Kurniawan
Pemred www.kabarumat.com