Jangan Mempercayai Cermin: Dari Jokowi, KPK hingga Ahok

Anda ingin dianggap anti korupsi? Caranya sangat mudah. Di negeri ini, cukup memberikan dukungan kepada Jokowi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Ahok, maka resmi sudah Anda menjadi orang bersih yang tak korupsi. Semudah itu.

Ini fakta. Dulu saat pilpres menjelang, Jokowi dicitrakan oleh media massa sebagai sosok bersih, merakyat dan tidak korupsi. Akhirnya diopinikan bahwa siapa saja yang mendukung Jokowi maka mereka adalah orang yang bersih dari korupsi. Grup band terkenal Slank pun sampai harus membuat konser dengan tema Slank Anti Korupsi, Slank Dukung Jokowi.

Lalu kedekatan Jokowi dengan Ketua KPK saat itu, Abraham Samad yang terus dieksploitasi oleh media massa, kian mencitrakan anti korupsinya mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Rumus sederhana memilih pilpres pun tercipta. Pilih Prabowo maka Anda pro korupsi. Dan memilih Jokowi maka Anda anti korupsi.

Begitu pula tentang KPK. Siapapun yang mendukung komisi anti rasuah itu, maka mereka berhak menyandang gelar sebagai anti korupsi meski tangannya berlumuran uang suap. Sebaliknya, mereka yang mengkritik KPK dianggap sebagai pihak yang mendukung koruptor. Fahri Hamzah, politisi PKS yang kerap bersuara lantang soal kinerja KPK terkena getahnya. Ia dinilai pro korupsi walau kritikannya benar.

Terakhir adalah Ahok. Pria bernama lengkap Basuki Thahja Purnama itu sungguh sangat beruntung. Ia menjadi paramater bagi pihak-pihak tertentu untuk menilai seseorang anti korupsi atau tidak. Jika mendukung Ahok maka dianggap anti rasuah. Dan jika melawan Ahok maka dinilai tukang makan uang rakyat.

Konflik Ahok dan DPRD menjadi bukti shahih. Media massa menggiring opini bahwa DPRD itu yang menjadi sumber masalah. Mereka penyebab munculnya dana siluman. Lalu Ahok diopinikan sebagai dewa, suci dari noda korupsi. Dan publik pun akhirnya manggut-manggut ketika muncul dukungan kepada Ahok dengan jargon Save Ahok atau Kami adalah Ahok.

Begitu cepat kita terjebak pada lubang kesalahan yang sama. Kita anggap Jokowi adalah sosok merakyat dan bersih hanya karena berita massif yang dikampanyekan media massa. Kemudian hari ini, perlahan tapi pasti, kita semua akhirnya bisa melihat sosok asli Jokowi yang sesungguhnya ketika menjadi presiden.

Kita pun begitu terpesona dengan KPK yang dicitrakan media massa sebagai lembaga malaikat yang tak pernah berbuat salah. Lalu belakangan ini, kita menjadi saksi hidup betapa ternyata KPK juga bobrok, tak sebersih yang diberitakan.

Dan hari ini, kita mati-matian mendukung Ahok seakan dia sosok yang tanpa nista hanya berdasarkan massifnya berita di media massa. Sementara di depan sana, lubang yang sama sedang menanti kita tanpa kita sadari.

Sungguh ironis. Bangsa ini masih saja tak hobi mengunyah. Setiap berita langsung ditelan mentah-mentah. Jadi teringat narasi John Osborne dalam “The Hotel in Amsterdam” tentang pers.  Kata Osborne, “Pers adalah cermin. Jangan sekali-kali mempercayai cermin!

Erwyn Kurniawan
Pemimpin Redaksi www.kabarumat.com

  • Mangap

    Adakah lembaga lain yang lebih bersih dari KPK? Tolong sertakan datanya.