Indira Kaljo, Atlet Muslimah yang Perjuangkan Jilbab di Cabang Basket

Setahun yang lalu, Indira Kaljo, pebasket muslimah, memutuskan untuk mengenakan jilbab. Keputusan ini ia ambil karena terinspirasi saat perjalanan amal untuk korban gempa Haiti.

Tapi keturunan Bosnia-Amerika ini segera sadar bahwa dia tidak akan bisa bermain secara profesional di Eropa karena FIBA (organisasi basket internasional) telah melarang penggunaan berbagai jenis tutup kepala, termasuk jilbab dan turban selama pertandingan resmi.

“Ini tidak masuk akal,” kata Kaljo, yang meyakini bahwa larangan ini diskriminatif terhadap atlet yang ingin mengikuti iman mereka, termasuk Sikh dan Yahudi.

Pada tahun 2014, ia meluncurkan petisi online, yang mengumpulkan sekitar 70.000 tanda tangan, menarik perhatian di seluruh dunia dan sukses mempengaruhi pandangan FIBA untuk melunakkan sikapnya terhadap aturan jilbab.

Pada akhirnya, di bulan September 2014 FIBA ​​mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan untuk memakai penutup kepala yang berhubungan dengan agamanya dalam permainan basket dalam negeri untuk jangka waktu sementara dua tahun.

Namun, FIBA ​​belum memperluas kebijakan ini untuk kompetisi internasional. FIBA sendiri mengatakan akan mempertimbangkan aturan ini di pertemuan dewan akhir tahun ini.

Dua minggu setelah keputusan FIBA, tim basket wanita Qatar menarik diri dari Asian Games 2015, sebagai protes terhadap larangan jilbab yang masih berlaku di pertandingan internasional.

FIBA mengatakan keputusannya tidak ada hubungannya dengan agama dan hanya berkaitan dengan masalah olahraga. Menurut aturan, semua tutup kepala, aksesoris rambut dan perhiasan dilarang.

“Menyebalkan,” kata Kaljo, yang saat ini berada di Istanbul. “Ini adalah semangat kami, mimpi kami. Ini adalah apa yang perjuangan kami sejak masa kecil.”

“Saya masih bermain basket. Bagi saya, saya lebih nyaman sekarang daripada sebelumnya (ketika) saya belum mengenakan hijab,” kata Kaljo. Ia menambahkan bahwa pakaian lengan panjang kadang membantu menyerap keringat dengan baik dan membuatnya nyaman terutama saat terlibat kontak fisik dengan pemain lain.

“Pertama kali bermain dengan jilbab, permainanku begitu baik,” katanya. “Itu membuat saya benar-benar sedih ketika saya mendengar ada wanita yang berhenti bermain setelah memutuskan mengenakan jilbab,” keluh Kaljo.

Atlet yang penuh gairah ini percaya akan ada lebih banyak muslimah yang bermain basket untuk mewakili negara mereka jika FIBA ​​memperluas aturan pembolehan jilbab ini di level internasional.

Saat ini Kaljo melanjutkan karirnya di salah satu klub Arab Saudi yang berdiri pada 2006, yang berpartisipasi dalam kompetisi lokal dan swasta internasional karena tak ada liga nasional resmi di negara ini.

Saya pikir muslimah harus merasakan kulitnya nyaman, baik ia mengenakan jilbab atau tidak, tertutup atau tidak tertutup” ujar Kaljo yang juga menggerakkan sebuah LSM, Activne, yang bertujuan untuk mempromosikan pengembangan pribadi bagi muslimah melalui olahraga.

Dua wanita di Arab Saudi dibebaskan pekan lalu setelah lebih dari dua bulan di penjara karena mengendarai mobil, yang mana ada aturan yang melarang bagi wanita mengendarai mobil di negara ini.

Kaljo berpikir larangan ini juga harus dihapus seperti peraturan lain yang membatasi partisipasi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.