Apa Lagi yang Naik, Tuan Presiden?

Pekerja menata beras di Pasar Induk Rau, Serang, Banten, Senin (12/1). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Berapa lama Jokowi menjadi presiden? Baru tiga bulan lebih. Hitungan 100 hari kerja pun baru saja dilaluinya. Tapi catatan prestasinya dalam hal menaikkan harga sungguh luar biasa walau usia pemerintahannya seumur jagung.

Dimulai dari kebijakan mantan gubernur DKI Jakarta itu menaikkan harga BBM pada 17 November 2014 silam. Harga premium naik Rp 2.000 menjadi Rp 8.500 per liter. Turut naik juga harga solar menjadi Rp 7.500 per liter dari sebelumnya Rp 5.500 per liter.

“Harga BBM baru yang akan berlaku pukul 00.00 WIB terhitung sejak 18 November 2014,” ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta.

Kebijakan itu mengundang banyak kritikan karena harga minyak dunia sedang mengalami penurunan. Tapi Sang Presiden jalan terus. Ia baru mengubah keputusannya Januari 2015 dengan merevisi harga BBM.

Di Februari 2015, harga beras dan elpiji 3 Kg juga merangkak naik. Di Pasar Bogor dan Pasar Kebon Kembang, harga beras naik Rp 1.000-Rp 2.000 per kilogram. Harga beras termurah Rp 8.500 per kilogram yang sebulan sebelumnya masih Rp 6.500 per kilogram. Untuk beras kualitas bagus, harga mencapai Rp 12.500 per kilogram. Harga itu naik Rp 1.500-Rp 2.000 dari kondisi pada Desember 2014 dan Januari 2015.

”Dari yang biasa beli beras bagus, terpaksa dua minggu ini beli yang kualitas sedang,” kata Handayani (38), ibu rumah tangga yang sedang belanja di Pasar Bogor.

Kenaikan harga juga terjadi pada elpiji ukuran 3 kilogram yang notabene dijual dengan harga subsidi. Kurun dua minggu terakhir ini, harga elpiji yang berkisar Rp 15.000-Rp 16.000 per tabung menjadi Rp 20.000 per tabung.

Hutang pemerintah juga ikut naik. Hingga Januari 2015, total utang pemerintah pusat tercatat Rp 2.702,29 triliun. Naik 3,7% dibandingkan posisi bulan sebelumnya yaitu Rp 2.604,93 triliun. Sebagian besar utang pemerintah adalah dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN). Sampai Januari 2015, nilai penerbitan SBN mencapai Rp 2.021,02 (74,8% dari total utang pemerintah).

Dibandingkan Desember 2014, posisi utang dari SBN mengalami kenaikan. Pada Desember, posisi utang SBN adalah Rp 1.931,22 triliun. Htang juga ikut naik dibandingkan Desember 2014. Pada Desember, nilai pinjaman adalah Rp 673,71 triliun.

BBM sudah naik, beras juga ikut melonjak, lalu diikuti elpiji 3 Kg, dan hutang pemerintah pun ikut naik pula. Kita pun layak bertanya kepada Jokowi, “Apa Lagi yang Naik, Tuan Presiden?”