Agar Air Mata untuk Air Asia Tak Sia-Sia

Foto: Tribunnews

Awan duka masih terus berarak di langit Indonesia. Belum kering air mata kita meratapi longsor di Banjarnegara dan banjir yang menenggelamkan banyak rumah di beberapa daerah. Kini,kesedihan kembali menyapa kita saat pesawat Air Asia dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura hilang sejak Ahad pagi kemarin.

Jujur, jika kita merupakan keluarga dari para penumpang pesawat malang tersebut, dunia serasa gelap. Kehilangan anggota keluarga dengan cara yang tak pernah kita duga dan terjadi begitu cepat adalah kejadian luar biasa yang tidak pernah kita harapkan. Jiwa kita seperti luluh lantak. Hati kita hacur berkeping-keping bagai dihantam palu godam. Karena itu, tak ada kata yang paling tepat yang harus terucap dari bibir kita selain ungkapan belasungkawa dan iringan doa untuk mereka yang tertimpa musibah.

Kita pun yang tak terkena musibah tersebut harus dapat mengambil hikmahnya. Jangan sampai kita terus terperangkap pada angka. Kita hanya disibukkan dengan paparan data-data statistik: berapa skala richter gempanya; berapa tinggi gelombang tsunaminya; berapa jumlah korban luka dan meninggal dunia; berapa rumah dan bangunan yang hancur; berapa jumlah kerugian; berapa ketinggian pesawat, dan seterusnya.

Pada tahap awal, angka-angka itu memang sangat diperlukan. Namun jangan sampai angka-angka itu “menyandera” kita. Terperangkap pada angka adalah bukti nyata jika kita masih terus melakukan intelektualisasi bencana. Sekali lagi, pada tahap permulaan, intelektualisasi bencana sangat penting. Namun, ketika itu terus dilakukan, maka kita lupa pada hal yang sepatutnya harus kita kerjakan yakni spiritualisasi bencana.

Apa yang kita pikirkan saat membayangkan pesawat Air Asia yang terjebak awan Cumulonimbus? Kebanyakan kita merasa takut, ngeri, merinding, dan sejenisnya. Segala perasaan ini, disadari atau tidak karena pikiran kita terus dicekoki dengan intelektualisasi bencana.

Kita merasa takut pada awan cumulonimbus karena membayangkan “kekejamannya” pada setiap pesawat yang memasukinya. Tapi kita lupa pada siapa Yang Menciptakan awan tersebut. Kita takjub pada kedahsyatan awan karena mampu meluluhlantakkan pesawat canggih berbadan besar. Tapi kita lupa pada siapa Yang Menciptaka awan itu? Kita tak gemetar dengan Zat Yang Menciptakannya tersebut. Itu semua terjadi karena kita tak pernah melakukan spiritualisasi bencana.

Apa itu spiritualisasi bencana? Ini adalah kondisi dimana kita melihat segala bencana yang datang dari kacamata spiritualitas. Pesawat hilang, tsunami, gempa, banjir dan sebagainya adalah bukti kemahabesaran Allah. Begitu mudah Allah membuat tsunami setinggi 10 meter dan menerjang seluruh benda yang ada dihadapannya. Begitu mudah Allah membuat gempa berkekuatan 9 skala richter yang merubuhkan bangunan. Begitu mudah Allah menghilangkan pesawat Air Asia. Sederhananya: spiritualisasi bencana menjadi alat bagi kita untuk mengingat Allah.

Sesungguhnya, jika kita lupa melakukan spiritualisasi bencana, sama persis dengan kelakukan kita sehari-hari. Saat kita makan nasi, adakah yang ingat siapa yag membuat nasi? Kita tak ingat dengan petani yang bekerja keras di sawah sepanjang hari untuk menanam padi. Kita hanya asyik masyuk di meja makan menyantap nasi yang tersaji.

Saat kita mengenakan pakaian bagus, adakah yang ingat dengan siapa yang membuat pakaian tersebut? Kita tak ingat dengan penjahit yang bekerja keras menjahit pakaian kita, siang dan malam. Kita tak ingat dengan buruh pabrik yang membuat kancing baju.

Ketika kita naik mobil, adakah yang ingat siapa yang membuatnya? Kita tak ingat dengan perakit mesinnya. Kita tak ingat dengan orang-orang yang memasangkan murnya. Kita tak ingat dengan mereka yang memasangkan rodanya.

Begitu banyak daftar ketakingatan kita. Namun kita tak pernah menyadarinya. Berbagai bencana yang datang silih berganti adalah cara Allah agar kita mengingat-Nya. Jika kemudian kita tak juga mau mengingat-Nya, dengan cara apalagi Allah harus menegur kita?

Awan duka masih terus berarak di langit Tanah Air seiring masih belum ditemukannya pesawat Air Asia yang raib di perairan Bangka Belitung. Inilah momentum kita mengambil hikmah spiritual dari musibah ini agar air mata kita untuk Air Asia tak sia-sia.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Pemred www.kabarumat.com

  • MerahDelima Stone

    .
    Sekedar cerita, tahun 2004 ada warga Bali yg bilang akan datang banyak bencana karena kepemimpinan sang batara kala (batara kehancuran), lalu kejadian tsunami aceh, pesawat hilang dan jatuh, gunung meletus, gempa, bom teroris, dll. Itu sesuai agamanya.

    tapi muslim tetap hanya percaya kepada Allah SWT dan tetap tabah.

    Tahun ini sang kala mulai memimpin lagi, musibah mulai datang lagi :
    1. pasar Klewer Solo terbakar habis (kerugian 5 trilyun).
    2. Pesawat Air Asia hilang jatuh di perairan Belitung timur.
    3. Kerusuhan anti kenaikan BBM terjadi parah di Makasar.

    Tiga tempat musibah itu adalah tempat tinggal pemimpin negara dan ibukota.

    Wallahu alam. 🙁