Robohnya Jurnalisme Kovach: Dari Tempo, Detik hingga Piyungan

Jika ada penyakit bangsa yang paling mengkhawatirkan selain narkoba, perilaku seks bebas dan korupsi, maka itu adalah tentang lakon media massa baik cetak, elektronik dan media sosial. Kian hari, kita semakin sulit membedakan mana berita yang sesuai standar jurnalistik dan mana yang tidak, terutama saat menyangkut umat Islam dan Jokowi. Ironisnya, kesulitan publik tersebut disebabkan bukan cuma oleh media sekelas Piyungan Online, namun juga oleh media besar semacam Tempo, detik.com, Metro TV dan lainnya. Bukan sekadar pelaku, media-media mainstream ini justru menjadi inisiatornya.

Saya ingin mengajak pembaca menengok sejenak ke belakang terkait soal tersebut. Semata-mata agar kita dapat melihat sebuah persoalan dengan komprehensif, berbasis data dan fakta; tak cuma caci-maki atau fitnah.

1. Dalam running text RCTI diberitakan bahwa kader PKS terlibat penyerangan kantor Koran Tempo. Padahal yang melakukan adalah kelompok lain. Berita tersebut tayang tanpa melakukan check and recheck.
2. Metro TV menuduh Rohis sebagai cikal bakal teroris
3. Insiden Monas tahun 2008. Koran Tempo memberitakan sebagai aksi kekerasan umat Islam terhadap AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Islam pun diopinikan sebagai antikebhinekaan, mengingat saat peristiwa terjadi bertepatan dengan Hari Pancasila. Padahal, bentrokan antara FPI dan AAKBB disebabkan oleh provokasi AKKBB. Tapi media tak mau tahu. Fakta itu mereka sisihkan, dan hanya memberitakan aksi kekerasan FPI. Keesokan harinya, Koran Tempo menampilkan foto headline saat Munarman, tokoh FPI, sedang “mencekik” seorang laki-laki –yang ditulis mereka sebagai anggota AKKBB–, untuk memberikan efek dramatis aksi kekerasan FPI. Ternyata, fakta yang sesungguhnya tidak demikian. Munarman justru sedang berusaha mencegah anggota FPI melakukan serangan kepada anggota AKKBB.
4. Tahun 2011, terjadi insiden antara warga Ciketing Asem, Bekasi dengan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang menyebabkan dua orang jemaat HKBP tertusuk tepat di hari ketiga Idul Fitri. Episode selanjutnya sangat mudah diduga. Berbagai media (cetak dan elektronik), baik dalam maupun luar negeri, kompak mengangkat peristiwa itu dengan satu angel yang seragam: kebebasan beribadah. Judul kemudian dibuat beragam. Beberapa di antaranya: Pemkot Bekasi Diminta Berikan Izin Ibadah untuk jemaat HKBP (www.detik.com), Romo Benny: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Pelaku Kekerasan (www.detik.com), Indonesia, Belajarlah Toleransi (www.kompas.com), Kebebasan Beragama Belum Terjamin (www.kompas.com), Ada Pertemuan sebelum Penusukan (www.kompas.com), Kebebasan Beribadah Terancam (Media Indonesia), KWI: Gejala Intoleransi Terjadi (www.kompas.com), Sukur Nababan: Ini Tindakan Biadab, (www.kompas.com), Jemaat HKBP Ditusuk saat akan Beribadah (Koran Tempo), Christian Worshippers Attacked in Indonesia (New York Times/Associated Press).

Daftar berita yang tak memenuhi standar jurnalistik makin panjang ketika Jokowi dimunculkan sebagai mitos baru. Itu dimulai sekitar tahun 2012 saat Jokowi maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dan berlanjut hingga sekarang ketika menjadi Presiden RI. Apapun tentang Jokowi jadi berita dan banyak di antaranya yang sekadar berita “kejar tayang”.

Sekelas www.kompas.com memberitakan bahwa Jokowi menjadi presiden pertama ke Pulau Sebatik, padahal SBY pernah berkunjung ke sana. Menyedihkan bukan?

Lalu www.detik.com menuduh Dwi Estiningsih menyebarkan berita hoax soal larangan jilbab panjang di BUMN dengan hanya bermodal kata: sepertinya.

Lalu di mana pelarangan jilbabnya? Sepertinya isu soal larangan jilbab ini kemudian hanya hoax belaka. Tapi ya itu tadi semestinya jangan mudah percaya dengan isu di media sosial, apalagi dengan emosi kemudian mengecam dan mengumpat.

Siapapun yang memiliki hati nurani dan kecintaan kepada umat pasti akan gerah dengan fenomena menyedihkan ini. Lalu bermunculan media Islam online, salah satunya Piyungan Online yang memakai nama PKS untuk “melawannya”. Saat kriminalisasi LHI oleh KPK, situs Piyungan seolah-olah menjadi “obat penawar” bagi kader partai dakwah tersebut dengan menjadikannya media rujukan. Demikian pula saat menjelang pemilu 2014. Rasanya tak afdhol jika berita kegiatan kader atau tulisan mereka tak dimuat Piyungan.

Dalam perkembangannya, Piyungan akhirnya tertular virus dari media arus utama. Beritanya sungguh tak memenuhi kaidah dasar jurnalistik. Kasus mutakhir soal ucapan selamat natal yang tak pernah terucap dari Hidayat Nur Wahid namun oleh Piyungan dijadikan judul: Hidayat Nur Wahid: Boleh Ucapkan Selamat Natal. (http://www.pkspiyungan.org/2014/12/hidayat-nurwahid-boleh-ucapkan-selamat.html)

Apa yang dilakukan Kompas, Tempo, detik dan kemudian diikuti Piyungan sungguh sangat memprihatinkan. Terlebih Piyungan yang sudah kadung dikenal sebagai “kepunyaan” PKS meski sudah banyak bantahan bahwa situs tersebut bukan milik PKS. Citra PKS sebagai partai dakwah lama kelamaan akan tergerus hingga ke titik nadir jika jurnalisme yang ditampilkan Piyungan tak ada bedanya dengan detik.com dan kawan-kawan. Dan tak hanya nama PKS yang dipertaruhkan, tapi juga media Islam online lainnya yang dapat terkena imbasnya.

Saya kerap menulis tentang 9 Elemen Jurnalistik Bill Kovach. Kata Kovach, seorang jurnalis itu:
1. Berkewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya.
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari
kekuasaan.
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Sembilan hal tersebut sudah susah kita temukan dalam berita-berita yang ditampilkan media massa hari ini. Tak ada lagi netralitas. Tak ada lagi independensi. Banyak media yang sudah “dbeli” oleh pemilik modal dan penguasa.

Jika saya masih boleh berharap, biarkanlah Tempo, detik.com cs bersama-sama merobohkan benteng jurnalisme Kovach karena kita tak mampu mencegahnya. Tapi jangan sampai media islam online termasuk Piyungan berkontribusi bersama mereka. Karena bagaimanpun kita adalah seorang da’i yang harus menyampaikan kabar dengan qaulan sadida (kalimat yang jujur).
Nahnu Du’at Qabla Kulli Syai’in (Kita adalah penyeru sebelum menjadi apapun)

Erwyn Kurniawan
Pemimpin Redaksi www.kabarumat.com