Berita Hoax Jilbab, Detik.com dan Alexander The Great

Nama Dwi Estiningsih tiba-tiba saja mencuat. Musababnya terkait dengan cuitan dan gambar yang dia tampilkan di akun twitternya: @estiningsihdwi. Dwi menuliskan sejumlah syarat menjadi PNS di BUMN. Mulai dari tidak boleh berjanggut bagi pria hingga jilbab yang hanya sampai batas di leher. Dalam sekejap, isu tersebut merebak dan menjadi perbincangan panas di media social hingga media konvensional.

“Foto itu asli, benar adanya yaitu form dan catatan untuk asesor penilai, bukan pengumuman, saya ulangi bukan selebaran atau sejenis. Kriteria yang tercantum adalah seleksi bagi frontliner. Masalahnya adalah deksripsi kompetensi yang berisi hal tendensius dan diskriminatif,” kicau @estiningsihdwi, Kamis (18/12/2014).

Pro dan kontra kemudian terjadi. Banyak pihak yang menyayangkan dan mengecam perlakuan diskiriminatif tersebut. Hingga akhirnya klarifikasi pun datang dari pemerintah. Termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa berita itu tidak benar.

“Ah nggak benar itu. Pasti ada yang bikin itu isu ndak benar,” kata JK di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (18/12). JK mengatakan ada pihak-pihak tertentu yang ingin mengeluarkan kebijakan kontroversial ini. “Ada ndak tanda tangan bu Rini! Lihat? Pasti itu ada yang bikin bikin isu itu,” tegas JK.

Yang menarik adalah apa yang dilakukan detik.com. Media yang teramat jelas keberpihakannya pada Jokowi itu menulis berita bahwa kabar pelarangan jilbab di BUMN adalah hoax. http://news.detik.com/read/2014/12/18/200437/2781885/10/kisah-hoax-isu-jilbab-di-kementerian-bumn-yang-ramai-di-media-sosial

Berita itu semakin menarik dikritisi karena media sebesar detik.com secara vulgar melanggar elemen dasar jurnalisme yakni cover both sides dan penuh prasangka (tidak netral). Dalam beritanya, detik.com langsung menuduh kabar tersebut hoax tanpa menampilkan tanggapan dari Dwi. Betul memang detik.com memuat komentar Dwi dalam kicauannya di akun twitter. Tapi itu tidak cukup. Detik.com seharusnya meminta komentar lebih detail tentang gambar yang ditampilkan Dwi.

Konyolnya, tanpa meminta tanggapan Dwi, detik.com kemudian menyimpulkan bahwa berita tersebut hoax berdasarkan keterangan Kabag Administrasi BUMN Faisal Halimi. Lucunya, tak ada komentar dari Faisal Halimi. Detik.com hanya menuliskan ini:
.
Pihak BUMN yang diklarifikasi memberikan pernyataan. Isu pelarangan jilbab itu tidak ada.Kabag Administrasi BUMN Faisal Halimi mempersilakan mengecek ke laman BUMN tentang syarat tes CPNS

Lalu, kesimpulan berita itu hoax coba dikuatkan detik.com dengan menulis kalimat ini:

Penelusuran detikcom, tes CPNS formasi 2014 bagi Kementerian BUMN ini memang meminta sejumlah syarat. Tapi secara lengkap tak ada urusan jilbab dan jenggot. Syarat yang spesifik hanya tidak bertato dan memiliki IPK minimal 3.

Lalu di mana pelarangan jilbabnya? Sepertinya isu soal larangan jilbab ini kemudian hanya hoax belaka. Tapi ya itu tadi semestinya jangan mudah percaya dengan isu di media sosial, apalagi dengan emosi kemudian mengecam dan mengumpat.

Perhatikan baik-baik. Detik.com dengan beraninya enyimpulkan sebuah berita adalah hoax dengan kata sepertinya. Wow!!! Hari ini, begitu mudahnya kita menjadi seorang jurnalis di Indonesia. Tak perlu lagi kita peduli dengan Sembilan elemen jurnaslisme Bill Kovach! Kata Kovach, seorang wartawan itu harus memperhatikan ini:

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya..
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari
kekuasaan.
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Dwi Estiningsih sendiri dalam akun twitternya sudah menjelaskan bahwa apa yang dia tampilkan dan tuliskan adalah benar, tiada rekayasa. Dwi menuliskan di akunnya:

Tujuan saya tweet foto tsb adl utk membuka mata masyarakat bahwa masih terjadi diskriminasi di sekitar kita.

Kasus ini mengingatkan saya pada kisah Alexander The Great, kaisar Macedonia yang terkenal dan memiliki banyak daerah jajahan. Suatu ketika ia menangkap seorang perompak. Sang Kaisar lalu bertanya, “Kenapa engkau membuat teror di lautan?”

Perompak itu balik bertanya, “Kenapa engkau membuat kekacauan di dunia? Hanya karena aku menggunakan sebuah kapal kecil, engkau menyebutku teroris; sedangkan engkau; karena engkau memakai kapal yang besar engkau menyebut dirimu seorang kaisar.”

Detik.com ibarat Alexander The Great yang dengan mudahnya member stigma kepada Dwi bahwa apa yang ditulisnya adalah hoax. Padahal, sudah lama dan sangat banyak berita yang ditampilkan detik.com tak memenuhi standar dasar jurnalisme.

Anda setuju bukan?

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002