Anak Terlalu Dekat dengan Nenek, Bermasalahkah?

Ilustrasi. [foto: squarespace.com]

QUESTION:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Abah, saya mau tanya tentang kasus anak yg telalu dekat dgn Nenek atau mbahnya. Apakah ini bermasalah?

Saya punya teman yg anaknya sedari kecil selalu main ke rumah neneknya yg kebetulan tidak jauh dari rumahnya. Namun lama kelamaan anak ini menjadi lengket dengan neneknya.

Setiap hari pasti minta dianterin ke rumah neneknya, dan anak ini selalu susah untuk dibujuk untuk pulang oleh orangtuanya (karena sudah seharian main teman neneknya), bahkan sampai anak ini tidak mau pulang.

Temen saya (si Ibu) jadi takut klo anaknya ini terlalu lengket dgn nenek yang akibatnya anaknya ini menjadi jauh dari dirinya. Apalagi pengaruh dengan siapa nanti yg akan anak ini dengar Ibu atau Neneknya.Si Ibu menjadi khawatir apalagi hal ini terkait dgn pendidikan Islam yg ingin ditanamkan si ibu ke anaknya.

Mohon solusinya.

ANSWER:

Wa’alaikumsalam wr. wb.

Sebenarnya, tidak masalah dekat dengan neneknya. Dekat dengan tantenya, dekat dengan kakaknya atau bahkan dekat dengan pembantu sekalipun. Malah bagus untuk anak.

Tapi, menjadi masalah jika:

1. Ada perbedaan pola asuh antara pengasuh di luar orangtua (nenek, kakek, tante, pembantu, dll) dengan pola asuh orangtua. Terjadi inkonsistensi bagi anak yang akhirnya dapat membuat anak justru kebingungan dan lebih mudah untuk membangkang dari salah satu orang yang mengasuhnya.

Karena itu bukan satu dua saya menemukan kasus anak yang dari kecil dititip di rumah neneknya, uwaknya, tantennya yang tidak dkaruniai anak oleh Allah, dll. lalu setelah remaja balik lagi, anak remaja ini sering berulah dan membuat masalah.

Bermasalahnya anak remaja ini selain karena inkonsistensi tambah lagi dikirimnya anak ini ke tempat selain orangtuanya justru bukan untuk kepentingan anak itu sendiri. Apalagi jika orangtua punya anak lebih dari satu. Remaja ini merasa dibuang . lalu kemudian dalam pikirannya ia terus protes : mengapa aku yang dititipkan? Mengapa bukan kakak? Mengapa bukan adik? Mengapa Mama dan Papa mementingkan kepentingan uwak/nenek/tante daripada kepentinganku sendiri?

2. Orangtua abai dengan anak. Di tengah kesibukannya kerja, dua orangtua bekerja apalagi, lalu anaknya dititipkan di nenek/kakek/pembantu/tante/uwak, dll dan setelah bertemu dengan anak, bukannya terlibat berinteraksi dengan anak, malah mengabaikan anak dengan alasan lelah, cape dll. Maka otomatis kedekatan emosional orangtua dengan anak tidak terbentuk. Akibatnya anak ini jadi lebih mudah mendengar perkataan pengasuh di luar orangtuanya tadi.

Ini menjadi masalah terutama, saat anak ini harus berpisah dari pengasuh outsourcing tadi. apakah karena nenek kakek meninggal, apakah karena si bibi berhenti kerja, apakah karena uwaknya pindah ke luar negeri dan lain-lain.

Jadi, lengket dengan nenek, kakek, tante, uwak, bibi dan lain-lain itu boleh dan bagus. Tapi, saya termasuk yang tidak setuju jika seorang anak yang orangtua masih ada meski orangtua tunggal, apalagi lengkap, dititipkan di rumah orang lain sampai beberapa tahun.

Sekadar menitipkan beberapa jam karena orangtua kerja boleh-boleh saja. tapi menitipkan anak sampai bertahun-tahun saya khawatir ini namanya mengabaikan anak dan melepas tanggung jawab orangtua pada anak.

Jika pun dititipkan beberapa jam, itu pun orangtua harus segera setelah bertemu dengan anak melakukan interaksi berkualitas dengan anak sehingga anak lengket dengan nenek juga lengket dan orangtuanya sendiri.

Bagaimana jika dua-duanya sudah lengket? Sangat bagus tentu! tapi, yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa anak tetap harus dibawah kendali orangtua, bukan nenek dan kakeknya. Aturan-aturan keluarga yang berlaku harus dari orangtua, bukan dari nenek dan kakeknya. Karena itu:

1. Saat menitipkan anak, pastikan bahwa nenek dan kakeknya telah diberikan penjelasan mengenai aturan-aturan dasar yang berlaku di keluarga Anda. Mungkin tidak mudah bicara dengan orangtua tua yang kadang harus hati-hati dan tidak menyingung perasaan. Tapi insya Allah dengan niat baik dan cara berbicara yang tidak menggurui dan sopan, sebagian orangtua pada akhirnya akan mendenggar kita.

“Ayah ibu, ayah ibu tahu, kami sudah berumah tangga dan punya anak-anak yang dikirimkan Allah kepada kami.

Ayah ibu sudah tahu, ini amanah kami. Dan kami akan diminta pertanggugnjawaban oleh Allah kelak. Yang akan dhisab adalah kami orangtua, terutama, bukan ayah ibu, kakek neneknya anak-anak.

Kami sangat senang dan berterima kasih ayah ibu (nenek-kakeknya anak Anda) mau terlibat dan berkenan ikut menjaga anak kami. Tapi kami mohon pengertian ayah ibu, karena kami tengah belajar berumah tangga sendiri, kami memilki aturan-aturan di rumah kami yang juga akan berlaku untuk anak-anak kami.

Jadi, kami mohon pengertian agar saat ayah ibu mengasuh anak-anak, cucu ayah dan ibu, agar ayah dan ibu dapat menerapkannya secara konsisten pada anak-anak kami”

2. Jika orangtua kita benar-benar tidak dapat diajak bicara maka BUAT ANAK KITA LEBIH PERCAYA pada kita dibandingkan nenek dan kakeknya. Saya yakin jika terbangun kedekatan orangtua dan anak dan lalu orangtua tegas dalam artian menerapkan aturan-aturan keluarga secara konsisten. Insya Allah anak kita seharusnya akan lebih mendengar kita dibandingkan dengan siapapun.

Anak-anak saya saat disodorkan nenek dan kakeknya misalnya makanan yang menurut aturan keluarga bukan makanan yagn tayyib mereka akan berkata nenek kata abah dan ummi, makanan itu tidak boleh, tidak tayyib. Jadi bukan malah dilarang orangtua lalu lari ke nenek dan kakek .

Pengasuh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School
Pembicara Parenting di 7 negara
(Jerman, Austria, Swiss, Jepang, Arab Saudi, Malaysia, Indonesia)
dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 80 Kota di Indonesia
www.auladi.net | inspirasipspa@yahoo.com