Anak-Anak Yatim Itu…(2)

voa-Islam.com

Sebagai kepala keluarga, saat kita bekerja ayah, kita memang harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan dengan bekerja sepenuh hati, bekerja dengan keras tiada henti dan penuh dedikasi. Tapi please… saat punya anak, bertanggung jawablah juga dengan nak.

Bukan sekadar mainan, sekolahan, nafkah dan sekadar jadi ‘sopir’ jalan-jalan semata. Kualitas menghabiskan waktu antara ayah dan anak-anaknya adalah penting untuk kedua orang tua dan anak-anak. Anak-anak perlu mengetahui bahwa ayah mereka mencintai dan peduli pada mereka, dan ayah harus berhati-hati bahwa dia tidak mencerminkan kehilangan hubungannya dengan anak-anaknya karena kelalaian.

Ayah yang terlibat dengan anak-anaknya secara fisik dan emosional dengan keluarganya, inilah ayah sebenarnya. Banyak para ayah hanya menjadi ayah buat dirinya sendirinya, yakni Ayah yang jadi boss untuk anak-anaknya. Menuntut anaknya teratur, rapih, rajin belajar, berakhlak positif, tapi sekadar ‘ngatur-ngatur’ anak dan istrinya, tapi tidak menyediakan waktu untuk bercerita/ mendongeng untuk anak, tidak menyediakan waktu setengah jam sehari ngobrol dengan anak (bukan sekadar ngomongin dan nasihatin anak), mendampingi anak belajar (akademik) atau kegiatan-kegiatan berkualitas lainnya.

Wahai para ayah, ketahuilah bahwa lebih banyak anak hari ‘yatim’ daripada yang ‘piatu’ padahal orangtuanya masih lengkap. Sudah waktu banyak terkuras di luar rumah (kerja). Eh, saat sampai di rumah, ternyata sebagian ayah justru tidak menyentuh anaknya secara fisik maupun emosi.

Saat memberikan pelatihan tentang manajemen konflik suami istri

saya bertanya pada para perempuan yang telah berstatus menjadi istri dan ibu, dalam daftar komplain mereka, “ketidakhadiran” para suami mereka dalam keluarga, pada sebenarnya secara fisik mereka ada di rumah menjadi salah satu ‘komplain’ paling banyak dari para perempuan. Istilahnya, meski tak semua, sebagian para ayah hadir di RUMAH tapi tak hadir di KELUARGA. Berada di RUMAH, tapi tak berada di KELUARGA. Jika rumah (house) lebih diartikan sebagai sebuah bangunan fisik sedangkan keluarga (home/family) dimaknai sebagai sebuah bangunan ‘emosi’.

Para ayah shalih menyadari, pendidikan anak bukanlah tanggung jawab istrinya semata. Ketika kita lihat isi Al-Qur’an, saat kita bicara anak maka yang banyak dilibatkan adalah ayah, bukan ibu! Lihatlah Luqman, lihatlah Ibrahim, lihatlah Nuh, inilah para ayah. Bukan, bukan karena di Al-Qur’an tidak ada perempuan. Saat Al-Qur’an membicarakan perempuan, maka konteks yang tercipta adalah perempuan sebagai seorang individu perempuan dan istri, bukan sebagai ibu.

Al-ummu madrosatul ula, ibu adalah madrosah (sekolah) bagi anak-anaknya. Saya sependapat dengan perkataan bijak ini. Tapi, jangan sekali-kali menganggap ini hadits dari Nabi. Silahkan periksa apakah ini hadits? Karena itu saya lebih sepekat ayah dan ibu adalah madrosah bagi anak-anaknya.

Karena itu, sungguh, saya tidak setuju dengan peringatan hari ibu yang di Indonesia diperingati setiap tanggal 22 Desember itu. Tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadist Rasulullah saw yang sudah terkenal.

Ada banyak hal yang menyebabkan saya tidak setuju dengan hari ibu. Pertama, sebenarnya tanggal 22 Desember lebih tepat, jika mau, lebih tepat disebut sebagai hari perempuan daripada hari ibu. Berbeda dengan mother’s day di beberapa negara luar.

Hari ibu di Indonesia ditetapkan tanggal 22 Desember merujuk tanggal 22 Desember 1928 di mana organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Jadi konteksnya lebih tepat adalah gerakan perempuan sebagai perempuan bukan sebagai ibu. Meski, tentu saja ini beririsan. Tapi tak sedikit dampak dari ‘gerakan perempuan’ (feminisme) yang kebablasan membuat para perempuan justru menjadi ‘ibu tiri’ untuk anak-anak kandung mereka.

Kedua, menurut Wikipedia, Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Jadi di sini, Hari Ibu bisa jadi kedudukannya sama dengan Hari Valentine, April Mop, Tahun Baru Masehi, Hari Bumi dan hari-hari lainnya yang bermuara pada kepercayaan pagan Yunani. Merayakannya sama saja dengan mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan ritual itu.

Dan ketiga, inilah alasan yang paling penting buat saya. Boleh tak setuju, peringatan hari ibu justru jadi semakin menjauhkan para ayah dari konteks keterlibatan mereka dalam pendidikan anak dan justru semakin ‘menguatkan’ bahwa hanya para ibulah yang paling bertanggung jawab terhadap anak. Saya lebih setuju jika ada peringatan HARI AYAH IBU, dibandingkan hari ibu saja. Dengan HARI AYAH IBU, para ayah pun diajak, disentuh, disadarkan, dikampanyekan, dihargai, dimuliakan kedudukan mereka sebagai seorang ayah di keluarga, bukan sekadar ayah di rumah.

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School
Pembicara Parenting di 7 negara
(Jerman, Austria, Swiss, Jepang, Arab Saudi, Malaysia, Indonesia)
dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 80 Kota di Indonesia
www.auladi.net | [email protected]