Anak-Anak “Yatim” Itu…(1)

Ayah yang mengabaikan keluarga mereka, ayah yang jarang ngobrol dengan anak-anaknya karena pekerjaan, dan ayah yang sangat sibuk dan memiliki sedikit waktu atau bahkan tidak terlibat membesarkan anak-anak mereka, jaman ini adalah hal yang biasa. Inilah fenomena banyak anak hari ini jadi ‘YATIM’ saat ternyata ayahnya masih hidup secara raga tapi sebenarnya ‘meninggal’ secara jiwa.

Di perkotaan, para AYAH bangun pagi-pagi lalu melalui perjalanan panjang untuk bekerja, agar tidak terlambat. Lalu, agar tak terjebak macet, memilih pulang lebih larut atau memilih jalan lalu lintas lebih panjang. Maka jadilah ketika sampai di rumah mereka begitu sangat lelah, energi dan emosi terkuras! Hasilnya, para lelaki yang sudah berkontribusi terhadap kelahiran anak di rahim istrinya ini kemudian hanya ingin makan malam, nonton televisi atau melakukan kegiatan yang sedikit rileks, dan pergi ke tempat tidur sehingga ia dapat mengulangi rutinitas yang sama pada hari berikutnya.

Kadang muncul dalam pikirannya sendiri, suatu saat sesekali, ia berjanji bahwa ia akan menghabiskan lebih banyak waktu esok hari dengan anak-anaknya. Tapi, sangat sulit menepati janjinya sendiri. Sabtu-Minggu yang ingin dilakukannya hanyalah berdiam diri di rumah, melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan. Atau biar tidak merasa terlalu bersalah, mereka ajak anaknya memenuhi pusat-pusat perbelanjaan di akhir pekan. Memadati tempat-tempat rekreasi pada masa liburan! Atau jika juga tak sempat, mereka penuhi hampir segala yang anak inginkan. Maksudnya melakukan penebusan dosa pada anaknya. Melengkapi mereka dengan banyak alat mainan. Mendandani mereka dengan baju, topi dan sandal merek ‘buaya’ yang kadang harganya bisa menjadi SPP setahun anak Madrasah di Kampung.

Bukan, bukan, bukan jalan-jalan tidak bermanfaat. Bukan pula mainan tiada guna. Insya Allah itu juga semua berguna. Tapi, sungguh, wahai para ayah, ngobrol-ngobrol dengan anak Anda setiap hari nilai jiwanya bagi anak Anda bisa jadi beratus kali lipat dibandingkan semua itu. Dan sama sekali tak bisa digantikan dengan semua uang, mainan dan pusat perbelanjaan.

And don’t forget! Ngobrol dengan anak itu gratis lho! Tidak usah pake kartu kredit. Tidak usah pake pulsa. Anda bisa gratis bicara berapa menit pun dengan anak Anda. Saat Anda ngobrol Ayah, Anda bicara DENGAN anak Anda, bukan bicara KEPADA anak Anda. Anda membiarkan anak-anak Anda mencurahkan rasa sedih, senang, gembira, setiap hari! Sungguh indah! Wahai rekreasi jiwa yang murah meriah bukan?!

Seorang ibu di Pekanbaru bercerita, ia disindir suaminya karena tembok luar rumahnya penuh corat-coretan tangan.

“Ibu, baru ikutan seminar pengasuhan anak (PSPA) dua hari saja, rumah kok jadi acak-acakan begini. Bagaimana kalau sebulan? Pasti ancur-acuran!”, kata sang suami.

“Ayah, seumur-umur ibu baru merasakan nikmatnya bersama melihat anak-anak tertawa riang mencorat-coret tembok pake tangan!” kata istrinya.

“Lho, jadi Ibu juga ikutan-kutan?!”

“Ini rekreasi murah-meriah ayah! Ngecet tembok lagi paling habis berapa? Bayangkan, jika kita rekreasi ke Bukitinggi?! Biaya hotelnya berapa? Transportnya berapa? Makannya berapa?”

“Iya kalo gambarnya jelas, ini gambarnya gak jelas begitu”.

“Coba kita tanya anak kita: ‘itu gambar apa nak?!’ ”

“Gambar kapal ayah!”, jawab salah seorang anak mereka.

“Kok gambar kapal ancur-acuran begitu!”, protes ayah!

“Kan kapalnya, kapan ancur ayah! Ibu kan pernah cerita tentang kapalnya Toriq bin Ziyah yang diancurkan biar semangat ke medan perang!”

*
Lihatlah, jika kita mendengarkan pikiran dan perasaan anak kita, bukankah tersimpan mutiara cinta luar biasa dalam jiwa anak-anak kita wahai ayah?!

Tapi meski murah meriah, berapa banyak para ayah yang menghabiskan wakt dengan anak-anak Anda dalam satu hari? Berapa banyak ayah yang menyediakan waktu bersama anak setiap hari? Bukan di dekat anak, bukan sama-sama di rumah, tapi benar-benar bersama! Tidak bertiga dengan televisi, tidak berempat dengan koran, tidak berlima dengan laptop dan tidak berapapun dengan apapun. Tapi benar-benar Anda bersama anak.

Apakah selama ini kita lebih senang bicara atau mendengarkan anak kita bicara ayah?! Lihatlah, anak-anak bermasalah di sekitar Anda, anak yang senang tawuran, anak yang sering kebut-kebutan di jalan, anak anggota genk motor, anak kena narkoba, anak hamil di luar nikah. Wawancara mereka, wawancara anaknya, bukan orangtuanya. Berapa banyak setiap hari mereka bicara dengan ayahnya? Bukan, bukan, bukan dinasihati atau diceramahi ayahnya! Tapi diajak bicara dengan ayahnya, ngobrol dengan ayahnya! Diberi kesempatan bicara mengungkapkan perasaannya, pikirannya. Bahwa ada yang memfitnahnya hari ini, bahwa ada yang mengirimkan sms sayang hari ini, bahwa ada yang mengirim salam suka hari ini.

Berapa banyak anak yang terbuka dan nyaman bercerita pada ayahnya hari ini? Berapa banyak anak remaja hari ini betah berlama-lama dekat ayahnya? Berapa banyak anak hari ini terbuka dan jujur bercerita bahwa ia terlambat sekolahnya?!

Hanya sedikit? Mengapa hanya sedikit? Oh ternyata… saat mereka bermasalah, banyak dari mereka buru-buru dihujani ceramah, tausiyah, overdosis nasihat dari Anda.

Sebuah lagu Amerika populer oleh Harry Chapin menceritakan kisah sedih seorang anak yang selalu mencoba untuk menghabiskan waktu dengan ayahnya, tetapi ayahnya terlalu sibuk. Ketika anak itu dewasa dan ayahnya sudah tua, ayahnya selalu ingin menghabiskan waktu dengan anaknya, tapi anaknya selalu sibuk.

Kualitas menghabiskan waktu antara ayah dan anak-anaknya adalah penting untuk kedua orang tua dan anak-anak. Anak-anak perlu mengetahui bahwa ayah mereka mencintai dan peduli pada mereka, dan ayah harus berhati-hati bahwa dia tidak mencerminkan kehilangan hubungannya dengan anak-anaknya karena kelalaian.

Jadi Ayah, sebagai kepala keluarga, saat Anda bekerja, Anda memang harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan Anda dengan bekerja sepenuh hati, bekerja dengan keras tiada henti dan penuh dedikasi. Tapi please… saat Anda punya anak, bertanggung jawablah terhadap anak Anda. Sediakan sedikit saja waktu Anda bersama anak. Insya Allah ini investasi berharga untuk anak-anak Anda. Jika tak mau, jangan berani-beraninya melahirkan anak! Karena jika tidak, anak-anak Anda sebenarnya berstatus yatim saat ayahnya masih ada.

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School
Pembicara Parenting di 7 negara
(Jerman, Austria, Swiss, Jepang, Arab Saudi, Malaysia, Indonesia)
dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 80 Kota di Indonesia
www.auladi.net | [email protected]