Sudahkah Kita Melatih Anak Mandiri?

Pada saat beli mainan, anak kita ingin milih sendiri apa dipilihkan? Milih sendiri kan? Pada saat milih baju di lemari, anak kita ingin milih sendiri apa dipilihkan? Milih sendiri kan? Jadi bukankah semua anak dilahirkan Allah sejak turun ke dunia fitrah nya pada kemandirian?

Tetapi mengapa sebagian orangtua mengatakan bahwa setelah anaknya remaja banyak yang tidak mandiri. Sudah remaja, baju sekolah harus disiapkan orangtua. Setiap baju kotor harus diingatkan untuk disimpan pada tempatnya. Bahkan, tak sedikit ketidakmandirian ini ada yang terbawa sampai dewasa. Sudah selesai kuliah dan menikah eh masih bergantung dan nempel orangtua. Ada apa ini?

Kemandirian anak adalah modal dari kreativitas, kemajuan dan daya tahan keberlangsungan hidup (survival). Ketidakmandirian membentuk ketergantungan pada orang lain dan menghambat kemajuan. Seperti otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia. Memang ada yang belum berhasil untuk dibilang gagal, tetapi saya lihat sendiri sejak otonomi daerah banyak daerah bertumbuh pesat. Setidaknya 24 propinsi dan ratusan kabupaten/kota yang saya kunjungi dari lebih dari 30 propinsi yang ada di Indonesia. Tapi ini jauh lebih daripada ketika diterapkan sistem sentralistik yang otoriter, maka pengelola wilayah di sebuah daerah terlalu bergantung dari pusat. Akibatnya mental yang terjadi adalah: nunggu perintah, instruktif, mental subsidi.

Demikian juga anak-anak kita, ketika anak-anak tidak dilatih kemandirian sejak kecil maka anak-anak ini mungkin hanya tumbuh menjadi follower (pengekor) atau mungkin ketakutan-ketakutan ketika suatu hari mereka berpisah dengan orangtuanya. Ketakutan mengambil keputusan dan lain-lain.

Agar lebih konkrit, saya akan berikan gambaran lebih jelas dengan sebuah permisalan. Apa bedanya ayam kampung dan ayam negeri (ras)? Ayam kampung nyari makan sendiri sedangkan ayam negeri diberi makan tinggal nunggu di kandang. Enak mana hidup antara ayam kampung atau ayam negeri jika kita jadi ayam? Enak ayam negeri dong. Eit, tunggu dulu, sepertinya begitu jika hanya lihat sekilas. Sekarang coba bandingkan daya tahan hidup (survival) antara ayam kampung dan ayam negeri? Mana yang tahan dari penyakit? Mana yang setelah besarnya tidak usah diberikan subsidi terus? Jawabannya ayam kampung kan?

Dari kecil semua anak menyukai kemandirian. Kemandirian itu diekspresikan dengan rasa ingin tahu yang besar, raya mencoba yang besar dan tidak takut dengan kesulitan. Coba periksa ketika bayi bahkan baru tengkurap saja, semua benda yang ada di dekat dia akan dia coba dekatkan pada mulutnya untuk dia teliti bukan?

Lalu seiring dengan bertambahnya usia, saat dia baru merangkak misalnya, semua anak di seluruh dunia jika dia lihat tangga di rumahnya, maka ia akan memanjatnya. Ia tidak takut jatuh, terpeleset atau ketakutan lain seperti orangtuanya. Ketika ia ia mulai tertatih-tatih jalan, semua benda di sekitarnya ia pegang dan mungkin ia jatuhkan. Ketika ia mulai berjalan dengan sempurna, setiap jalan ia berlari (hampir tidak ada anak batita ketika jalan dengan orangtuanya jaan dengan santai).

Demikian juga ketika tangannya sudah dapat memegang benda, ia pun ingin makan sendiri, meski belepotan (karena motorik halus yang memang memang belum bagus). Ketika ia balita, jika jalan di trotoar ia akan berjalan di tempat yang sesempit mungkin dan ketika itu biasanya akan berkata “Lihat Ma, Adek hebat… bisa!”. Ketika ada genangan air, maka ia akan spontan loncat. Ketika ia melihat pasir maka ia akan dengan antusias mendekatinya, meremasnya, menaburkan, mencampurnya dengan pasir, dan seterus-seterusnya.

Bagi anak-anak kita seolah-olah benda apapun di dekatnya yang ada di rumah adalah sumber keingintahuan yang besar, sumber permainan dan akhirnya menjadi sumber kebahagiaan mereka. Tak jarang seolah bagi sebagian anak rumah mereka adalah tempat outbound gratis: flyng fox dengan gorden, trampolin pake kasur, keseimbangan dengan kursi yang mereka dekatkan, spyder pake teralis. Untuk ini semua, sejujurnya, orangtua tidak harus keluar banyak uang. Bahkan sebagian besar bisa jadi gratis.

Tetapi, apakah semua orangtua pada faktanya memberikan kesempatan anak mereka untuk melakukan itu semua? Oh ternyata tidak. Ketika bayi merangkak naik tangga serta merta sebagian orangtua mengambilnya dengan alasan klise “takut jatuh!” padahal bisa jadi yang benar “enggan menjaganya ketika naik!” ketika main air? Jangan sakit, nanti flu, air mahal, nanti terpleset dan segudang berita mengkhawatirkan lainnya ditembakkan ke dalam pikiran anak.

Ketika anak kita baru belajar makan, tentu makannya akan belepotan. Ketika belepotan inilah sebagian orangtua kemudian mengambil alih sendok anak “sudah sini sama Mama, makan kok acak-acakkan begini!” Main pasir? Jangan nanti kotor banyak kuman? Main pisau? Apalagi nanti berdarah! Loncat di kasur? Jangan nanti rusak! Main beras? Itu mahal tidak boleh dimainkan!

Lalu hei, setelah anaknya dewasa sebagian orangtua ini menuntut anaknya mandiri? Haduhhh! Berlebihan sepertinya. Bagaimana mungkin anak dapat mandiri dan pantang menyerah jika dari kecil kesempatan mereka berlatih untuk mandiri kita hilangkan karena terus diambil alih oleh orangtua? Tentu saja keselamatan no 1 (safety first). Orangtua tetap harus memastikan keselamatan anak ketika mereka bermain.

Tetapi, bukankah yang harus dilarang itu bahayanya, yang merugikannya bukan mainnya? Bukan main beras yang dilarang, tapi membuang beras atau mencampur beras dengan pasir yang dilarang. Caranya? Temani dong main beras. Bukan main airnya yang dilarang, tetapi sakitnya yang dilarang. Caranya? Batasi dong main airnya. Bukan manjatnya yang dilarang, tetapi jatuhnya yang dilarang. Caranya? Jaga dong saat anak manjat.

Jadi kita harus terus mendampingi anak-anak kita? Jika kita punya waktu atau lagi mood, mungkin kita bisa melakukannya, bagaimana jika tidak punya waktu atau lagi tidak mood?

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus terus-terusan mendampingi anak 24 jam bukan? Jika tidak punya waktu tentu saja anak balita harus dilarang demi keselamatan mereka. Pertanyaannya, apakah benar kita sebagai orangtua tidak punya waktu terus untuk anak? Apakah benar kita terus-terusan tidak memiliki mood setiap hari? Tidak punya waktu atau tidak mau menyediakan waktu? Tidak mood atau tidak mau mendampingi? Lalu jika tidak punya waktu terus atau tidak mood terus, kenapa kita punya anak?

Jika ini sering dilakukan, ini yang saya sebut sebagai kemandirian anak yang tidak sadar dan tidak sengaja direnggut orangtua. Jika itu terjadi, maka jangan salahkan anak jika saat ia dewasa saja menjadi beban untuk orangtua dengan masih saja terus bergatnung hidup dan mengandalkan kekuatan orangtua.

Pernah lihat anak setelah lulus jadi sarjana kebingungan mau ngapain karena melamar ke sana ke mari belum juga ada yang menerima? Lalu orangtuanya mulai kegerahan. “Belajar bisnis dong Nak!”…

Anaknya menjawab “Modalnya dari mana Pa?”

“Nih Pama kasih modal, kamu perlu modal berapa? 10 juta? 20 juta? Ngomong dong sama Papa!”

“Emang bisnis apa Pah? Kan tidak gampang cari ide bisnis?”

“Kamu kan bisa cari di internet. Bayak ide bisnis. Bikin kaos, bikin baju. Cari bahan di toko kain, lalu jahit!”

“Aku kan tidak memiliki kemampuan menjahit Pah! “

“Ya Tuhan.. cari penjahitlah, bayar, namanya makloon. Tidak harus kamu sendiri yang menjahti”

“Tapi kan gampang Pah cari penjahit yang dipercaya, belum lagi nanti jualannya gimana? Mending kalau laku, kalau tidak? Terus jualannya dimana?”

Setelah itu mungkin orangtua akan beristighfar berkali-kali mendengar kegalauan-kegalauan anaknya yang lebih juga dapat disebut, ketakutan-ketakutan anak untuk maju dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Maka jangan salahkan anak jika ini terjadi. Instrospeksi, apakah sejak kecil kita sudah benar-benar mengajarkannya kemandirian? Memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk mandiri?

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School
Pembicara parenting di 7 negara
(Jerman, Austria, Swiss, Jepang, Arab Saudi, Malaysia, Indonesia)
dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 80 Kota di Indonesia
www.auladi.net | [email protected]