Operasi Senyap BBM dan Matinya Nalar Kita

Ada hal menggelitik usai saya sholat subuh di masjid tadi pagi. Seperti biasa, saya dan beberapa orang bercengkerama sejenak. Di antara mereka kaget saat diinformasikan naiknya harga BBM. Mereka sama sekali tak tahu dan karenanya begitu terkejut ketika mendengarnya.

“Kapan naiknya,” tanya salah seorang.
“Memang naik?” kata mereka setengah tak percaya.
“Naik berapa?” tanya yang lain lagi.

Kenaikan harga BBM kali ini memang berbeda. Di masa Gus Dur, Mega dan SBY, proses kenaikan harga BBM sangat gaduh. Media massa mengopinikan tak perlunya kenaikan BBM, anggota parlemen seakan-akan berlomba mengkritik pemerintah dan berbagai elemen masyarakat turun ke jalan menolak kebijakan tersebut. Dan semakin riuh ketika kenaikan harga BBM tinggal menghitung bilangan hari atau jam. Salah satunya ditunjukkan dengan mengularnya antrian pemilik kendaraan bermotor di SPBU untuk menikmati terakhir kalinya harga BBM sebelum naik.

Kemarin malam saya tiba di Bekasi Timur jam 18.30. Saya mengarahkan motor ke SPBU untuk mengisi bensin. Tak ada antrian. Hanya dalam hitungan menit tangki motor saya sudah terisi bensin. Dan saya sama sekali belum dapat informasi soal rencana kenaikan harga BBM.

Semuanya memang serba senyap. Nyaris tak terdengar. Hampir tidak ada kegaduhan. Informasi Presiden Jokowi akan mengumumkan kenaikan harga BBM baru datang jam 19.30. Dari pesan yang saya terima, pengumuman akan dilakukan pukul 21.00. Itu pun masih belum yakn 100%. Karena itu, tak heran jika banyak orang yang tak mengetahui pemerintah telah menaikkan harga BBM tadi malam, termasuk di tempat saya, yang lokasinya tak jauh-jauh amat dari Istana Negara.

Harus diakui, pemerintah Jokowi sukses melakukan apa yang saya namakan operasi senyap BBM. Hal yang bahkan tak bisa dilakukan oleh SBY, seorang tentara yang dikenal sebagai ahli strategi. Kesuksesan operasi senyap ini boleh saja membuat pemerintah tersenyum lebar. Namun ada persoalan sangat serius dan mengkhawatirkan dibalik itu yang membuat saya dan kita semua tak bisa tersenyum. Yakni tentang kematian nalar banyak orang.

Diamnya media massa dan bahkan mendukung kebijakan Jokowi, lalu dibarengi dengan justifikasi para pendukung Jokowi menjadi indikasi tak terbantahkan tentang nalar kita yang telah mati. Mendukung kenaikan harga BBM di saat harga minyak dunia turun bukankah telah matinya nalar kita?

Sehari sebelum harga BBM naik, Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika telah mewanti-wanti. Menurutnya, keputusan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM akan menjadi yang pertama kali dalam sejarah Indonesia, di mana kenaikan harga BBM bersubsidi dilakukan di saat harga minyak dunia justru sedang terjun bebas.

“Selama ini kenaikan harga BBM itu belum pernah dilakukan saat harga minyak dunia turun, jadi ini pertama kali dan aneh,” kata‎ Ketua Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (15/11/2014).

Apa yang direncanakan pemerintah Jokowi tersebut di luar prediksi mantan Dirjen Migas itu. Pasalnya, selama ini pemerintah justru menurunkan harga BBM saat harga minyak dunia juga turun. Contohnya, China yang menurunkan harga jual BBM di SPBU pada 1 November lalu. Ini adalah ketujuh kalinya sejak Juli China menurunkan harga BBM-nya karena harga minyak mentah internasional terus merosot.

“Memang indikator perubahan harga BBM itu ada dua, selain harga minyak dunia juga karena nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tapi ini tidak relevan,” tegasnya.

Dirincikannya, selisih harga minyak dari yang tercantum di APBN-P 2014 dengan harga minyak sekarang yang ada di kisaran US$ 74,29 per barel sebesar 30 persen. Sementara di sisi lain. Pelemahan nilai tukar rupiah dijelaskannya ‎sebesar 5 persen.

“‎Kalau di-balance itu masih ada sisa penurunan 25 persen. Ini kemana? Jadi saya perkirakan pemerintah akan menurunkan, ternyata malah tidak,” papar mantan Gubernur OPEC untuk Indonesia tersebut.

Saya jadi teringat dengan cuapan Budayawan Sudjiwotedjo di akun twitternya @sudjiwotedjo. Ia menuliskan ini: Beberapa bulan lalu akyu ud ngingetin kamyu Cyuuuk: “Pemimpin tangan besi mematikan nyali, tapi pemimpin yang dinabikan mematikan nalar.”
Andakah itu?

Erwyn Kurniawan
Pemred www.kabarumat.com