Mbak Tutut, Jokowi dan Bangsa Karitatif

Maret 1998. Sebuah program dicanangkan oleh Menteri Sosial Siti Hardiyanti Rukmana. Putri tertua Presiden Soeharto itu memberikan kupon kepada masyarakat untuk makan gratis di warteg.

Mbak Tutut, demikian Sang Menteri Sosial akrab disapa, meluncurkan program tersebut sebagai cara mengatasi krisis ekonomi dahsyat yang sedang melanda. Kehidupan rakyat kian sulit akibat krisis ekonomi yang bermula dari krisis moneter pada pertengahan 1997 itu. Dengan cara memberikan kupon makan gratis di warteg, setidaknya itu menjadi bentuk perhatian pemerintah kepada rakyatnya.

Kebijakan serupa tapi tak sama dilakukan SBY. Putra Pacitan itu membuat program BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan BLSM (Bantuan Langsung Mandiri) untuk masyarakat sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Para penerima bantuan tersebut mendapatkan dana sekitar Rp 300.00 per bulan selama tiga bulan dan dapat diambil di Kantor Pos.

Kurang dari dua pekan setelah dilantik menjadi presiden, Jokowi pun melakukan hal serupa. Ia meluncurkan Kartu Indonesia Sehat ((KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi.

Apa yang dilakukan Mbak Tutut, SBY dan Jokowi adalah cerminan dari ketidakmampuan kita mendiagnosa akar masalah. Meminjam istilah Max Weber, kita tak memahami “sosiologi masalah”. Kondisi ini akhirnya akan melahirkan kebijakan atau program yang tidak tepat sasaran. Dan program yang dimunculkan akhirnya hanya bersifat karitatif.

Karitatif bersifat kasih sayang, memberikan bantuan kepada orang yang kita anggap lemah dan ini sama sekali tidak menyelesaikan persoalan. Alih-alih membuat rakyat terbantu dari kesulitan ekonomi, program tersebut justru menjadikan mereka berpotensi untuk selalu meletakkan tangannya dibawah atau mengharapkan bantuan.

Saya termasuk orang yang akan bersikap konsisten untuk memberikan kesempatan kepada Jokowi bekerja. Namun, jika ada indikasi kuat Sang Presiden mengulangi kesalahan seperti para pendahulunya, saya dan para pembaca pun harus juga bekerja untuk mengingatkannya.

Selamat bekerja Jokowi…

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002