Catatan Parenting dari Jerman

Apa kabar? Semoga Allah jaga kita semua ya. Hati-hati dengan kesehatan ya di musim peralihan ini. Mudah-mudahan demikian juga.

Abah lagi di Dresden sekarang, kota kedua safari abah di Jerman dan Swiss. Besok insya Allah ke Frankfurt. Sekarang lagi badai, jadi gak bisa keluar.

Di Jerman, keluarga bagi orang-orang di sini adalah prioritas. Jika ada yang mengatakan orang Jerman cuek dengan keluarga adalah persepsi keliru yang hanya terlihat dari luar.

Misalnya ketika ada seorang nenek sakit tidak ada yang menjenguk satupun anaknya, oh ternyata bukan karena anaknya tidak mau menjenguk atau ngurus tapi karena si nenek ini tidak mau merepotkan anaknya. Memang ada yang tidak ngurus orangtua sama sekali alias dicuekin. Tapi ngurus kok sebenarnya.

Terlalu banyak undang-undang atau peraturan Jerman yang memprioritaskan untuk perlindungan keluarga.

Hari ini saja di Haupbhanof di Dresden (Stasiun Kereta) banyak polisi yang memeriksa penumpang-penumpang abege yang masih dibawah 18 tahun, soal izin mau kemana dll jika tidak jelas minta lapor ke polisi.

Sejak lahir negara memberikan perlindungan untuk keluarga. Diantaranya setiap melahirkan diberikan Elterngeld (uang orangtua) jika kedua orangtua tidak bekerja dan Mutergeld (uang) pada kondisi ibu tidak bekerja.

Para ibu benar-benar dimanjakan oleh negara. Meski jarang yang mengambil hak ini, tapi sejak usia kandungan 3 bulan para ibu boleh mengambil cuti hamil, sejak usia 3 bulan kandungan pertama lho ya.

Saya sebut cuti hamil karena memang diberikan untuk saat masa kehamilan bukan kelahiran. Sedangkan di Indonesia 3 bulan cuti itu untuk sekaligus hamil dan melahirkan (jadi cutinya, cuti hamil atau melahirkan hayoo?)

Setelah melahirkan tentu ada cuti lain yaitu cuti mengasuh anak sampai usia 2 tahun. Para ayah menurut para ayah di sini dikasih cuti 2 minggu dengan maksimum 6 bulan jika melahirkan anak dan bisa diperpanjang 2 tahun sampai anak selesai ASI (bukankah perintah ASI 2 tahun itu perintah Quran 2:233). Dan cuti itu masih digaji lho.

Pada saat hamil seorang ibu sangat diperhatikan umumnya kesehatan bayinya oleh dokter. Isitilahnya untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas sudah dipersiapkan negara sejak dari janin.

Kata seorang ibu kepada saya di sini, dokter-dokter di sini luar biasa cerewet dan teliti. Ini dimungkinkan karena dokter-dokter di sini diberikan batasan ngurus pasien. Cerita Gilang seorang mahasiswa kedokteran asal Sukabumi, yang studi Technische Universitet Dresden seorang dokter diberikan batasan untuk menerima pasien sekira 50 orang per hari.

Seorang ibu hamil akan dijelaskan detail tentang kandungan. “Seolah saya ini dikasi pelajaran dan berperan sebagai mahasiswa kedokteran” ujar Grace seorang Indonesia yang saya kunjungi.

Ketika melahirkan ibu berpeluang mendapatkan tunjangan melahirkan jika penghasilannya dibawah upah minimum sekira €1000-1500 untuk sekali melahirkan. Ini diluar tanggungan asuransi yang akan menalangi semua biaya sejak biaya kehamilan sampai dengan melahirkan.

Para anak sejak lahir, akan mendapatkan uang Kindergeld (uang anak) untuk setiap anak sebanyak €184 untuk anak pertama dan kedua. Anak ketiga sekira €190 dan anak keempat dan seterusnya sekira €215 sampai anak usia 18 tahun. Jika anaknya sekolah sampai universitas atau anaknya cacat, tunjangan Kindergeld dapat diperpanjang sampai usia 25 tahun. (Sumber www.kindergeld.org)

Jadi istilah BANYAK ANAK – BANYAK REZEKI sangat berlaku di negara yang tidak beragama ini karena semakin banyak anaknya semakin besar penghasilan keluarga dari tunjangan negara. Biasanya uang ini dipakai untuk membelikan barang-barang atau kegiatan untuk kesejahteraan anak.

Di banyak toilet umum selalu ada Wickeltish semacam yang bisa dilipat meja untuk ganti popok. Dan ini tersedia juga bukan hanya untuk toilet perempuan, juga banyak di toilet laki-laki. Karena laki-laki juga diharuskan terlibat ngurus anak.

Setelah 2 tahun orangtua dapat memasukkan anak ke Kinderkrippe, semacam daycare yang tersedia dimana-mana dan banyak. Jika tak mampu bayar bahkan bisa gratis dengan melapor ke Ratehaus (balaikota) dan Ratehaus yang akan mengurus semuanya surat menyurat dengan sekolah.

Kenyataannya memang banyakan yang gratis karena kategori untuk yang harus bayar adalah mereka yang gajinya €7000 (euro) sebulan atau sekira 115 juta per bulan (sebelum dipotong pajak).

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pendidikan Orangtua di 25 Propinsi dan 6 Negara
www.auladi.net

  • Komunitas Commuterline

    ass abah, betapa islaminya hidup di jerman, lalu darimana pendapatan negara, klo fasilitas tsb diberikan kpd rakyatnya, apakah indonesia tdk bisa menerapkan seperti itu.., apa kendalanya…? trmksh