Tentara yang Selalu Tahajud

Ilustrasi. [foto: faisalchoir.blogspot.com]

Sahabat Fillah, kisah ini bermula ketika aku menemani seorang teman untuk menikahi seorang akhwat di daerah Subang. Perjalanan dari Jakarta-Subang lebih kurang ditempuh selama dua setengah jam. Kami hanya berdua, si calon pengantin dan aku. Singkat cerita kami bermalam di sebuah rumah milik seorang lelaki tua veteran TNI AU, saya lupa nama lengkapnya.

Pada malam itu kami disiapkan sebuah kamar, lalu kakek tersebut seperti biasa menunjukkan toilet, dan sebagainya yg mungkin diperlukan kami. Ketika kami berdua hendak istirahat beliau lalu menyampaikan, “Nak, nanti kalau ingin sholat tahajud disini, mbah sudah siapkan karpetnya”

Cetarr! hatiku serasa ditampar ,,, kemudian beliau mengatakan dengan sangat rendah hati “mbah biasa bangun jam setengah tiga shubuh setiap malam untuk sholat tahajud, saya merasa sholat tahajud itu sudah seperti sholat wajib saja.”

Lalu hatiku tergelitik untuk bertanya, “Mbah sudah berapa lama melakukan sholat tahajud seperti ini?” kemudian inilah yang membuat aku serasa ditampar dua kali lebih kuat, beliau menjawab “Sejak masih bujangan dulu, sejak jadi tentara.” Masya Allah … Karena kami sudah lelah, akhirnya kami izin untuk istirahat.

Esok shubuhnya aku melihat bahwa kakek sudah bangun, bakda shubuh aku juga melihat kakek membaca Al Qur’an dengan suara lirih. Inilah kebiasaan beliau bangun sholat malam dan tilawah sampai terbit matahari.

Ketika selesai tugasku tasmi alquran di rangkaian akad nikah dan temanku juga sudah berada di pelaminannya. Aku mulai penasaran dengan seorang laki laki yg sudah sepuh ini. Akhirnya ada kesempatan yg aku dan kakek bisa berdua saja dan berbincang bincang. Entah kenapa aku merasa nyaman sekali didekatnya, padahal kami baru saja kenal.

Inilah isi perbincangan kami berdua,
Aku : Nama kakek siapa ?
Kakek : (*lupa namanya) tapi saya biasa dipanggil Mbah Syifa. Kamu tau
kan arti Syifa ? InsyaAllah kamu lebih faham.
Aku : iya mbah, Syifa artinya penyembuh atau penawar, kenapa bisa dipanggil Syifa mbah ?

Kakek : “Jadi dulu ketika Allah menakdirkan kami berangkat ke tanah suci pada tahun 2008, disana saya dipercaya oleh para jama’ah untuk mengobati para jama’ah haji yang sakit. Padahal saya tidak bisa apa apa, saya tidak punya ilmu apa apa. Namun Alhamdulillah, Allah menakdirkan setiap jama’ah yang saya obati sembuh. Hingga pada akhirnya ada seorang pelayan Haji Saudi memberikan saya nama H.M Syifa (Haji Muhammad Syifa).
Sudah banyak yang meminta tolong kepada saya untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit, padahal sudah berkali kali saya tegaskan saya tidak bisa apa apa, hanya Allah lah yang memberi kesembuhan.” Kemudian beliau mengutip sebuah ayat, “wa idza mariztu fahuwa yashfin” Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) Yang menyembuhkan aku. (QS. Asy Syu’ara : 80)
InsyaAllah kamu lebih paham nak tentang ayat ini.

Aku melihat betapa besarnya nama Allah di hati seorang kakek ini. Tauhid yang begitu kuat terpancar dari dirinya.
Kemudian beliau melanjutkan ceritanya,

Kakek : “Dulu waktu saya masih muda, masih jadi tentara. Saya pernah dibawa kesebuah kamar oleh seorang ibu ibu, lalu dikamar itu ternyata ada perempuan cantik yang sudah tidak berbusana sambil merayu saya untuk bersetubuh dengannya. Seketika saya memalingkan muka dan berlari sekencang kencangnya keluar.”

Dalam benakku, ini seperti kisah Nabi Yusuf  ketika digoda oleh perempuan cantik jelita, lalu karena Nabi Yusuf berhasil melalu ujian ini, lantas Allah karuniakan kekuasaan padanya. Sebagaimana kakek ini ketika dulu muda digoda wanita, kemudian berhasil melaluinya, dan Allah karuniakan kelebihan kepadanya bisa mengobati orang sakit.

Kakek : “Sejak saya merasa Allah berikan kelebihan bisa mengobati orang sakit, yg padahal saya  ndak bisa apa apa, saya ini bodoh nak, ndak punya kekuatan apa apa, cuma Gusti Allah yg punya kuasa. Sangat keterlaluan ndak tau diri jika saya masih berbuat maksiat pada Gusti Allah, padahal Gusti Allah sudah berikan saya kelebihan seperti ini.
Lantas akupun memeluknya, ya Allah aku mencintai hamba-Mu ini …
Ohya satu lagi, mbah ini sangat mudah menangis dan mudah haru, ketika berbincang bersamaku beberapa kali beliau meneteskan airmatanya.

Ketika aku izin pamit untuk pulang ke Jakarta, beliau berpesan “Yang penting ingat Allah, besarkan Allah dalam hatimu. Allah lah segala galanya”.

Lantas akupun menicum tangan mbah Syifa ini, dengan perasaan haru campur sedih aku pamit meninggalkannya. Beliau berpesan agar aku silaturrahim kerumahnya lain waktu.
Demikianlah kisahku.

Semoga Allah limpahkan umur yang berkah dan kesehatan untuk Mbah Syifa, dan semoga Allah menakdirkan kita untuk bertemu kembali.

Ridhwan Ar Rifa’i