Sebait Sumpah untuk Indonesia

Usianya masih 25 tahun saat lelaki ini menuliskan seuntai kalimat dalam selembar kertas. Ia kemudian memberikan kertas tersebut kepada ketua Kongres Pemuda II Soegondo Djojopoespito. Takdir sejarah pun bergulir cepat.

Lelaki muda bernama Mohammad Yamin itu berbisik kepada Soegondo, “Saya punya rumusan resolusi yang elegan,” katanya sambil memberikan lembaran kertas bersejarah tersebut.

Sang ketua langsung membaca kertas dari Yamin. Usai membaca, ia memandang Yamin dan dibalas dengan dengan senyuman. Soegondo memparaf rancangan dari Yamin tanpa komentar. Selembar kertas itu lalu sang ketua teruskan ke Amir Sjarifuddin. Amir sempat bingung. Dipandanginya Soegondo dengan tatapan bertanya-tanya. Soegondo kemudian menjawab dengan anggukan.

Amir pun memberikan paraf setuju. Kemudian diikuti dengan tanda setuju dari seluruh utusan organisasi pemuda.  Awalnya, perjanjian itu bernama Ikrar Pemuda, lalu Yamin mengubahnya menjadi Sumpah Pemuda, yang isinya:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Mohammad Yamin memang memiliki perang sangat penting dalam sejarah Sumpah Pemuda. Dalam Kongres Pemuda II, ia dipercaya sebagai sekretaris. Di hadapan ribuan pemuda dari pelbagai daerah, ia berpidato pemberi semangat perjuangan.

Yamin juga ikut dalam rapat marathon yang digelar Sabtu sore hingga Ahad malam, 27-28 Oktober 1928 bersama utusan dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, dan lainnya. Dari hasil diskusi itu, para pemuda sepakat untuk mencetuskan Ikrar pamuda. Yamin-lah yang bertugas meramu rumusannya.

Yamin kemudian merancang sumpah itu sewaktu Mr Sunario berpidato di sesi terakhir kongres, Cukup singkat waktu yang Yamin butuhkan, karena rumusannya selesai ia tulis saat Mr Sunario belum selesai berpidato lalu diserahkan kepada Soegondo.

Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawah Lunto, 23 Agustus 1903. Ia adalah seorang anak muda yang memiliki mimpi besar dan kemampuan besar. Allah menganugerahi Yamin banyak talenta. Yamin dikenal sebagai pemikir sejarah, sastrawan, ahli bahasa, politisi, dan ahli hukum di samping tokoh pergerakan nasional. Yamin juga menguasai perundang-undangan serta ikut menata bidang pendidikan dan keguruan.

Dia pernah menjadi menteri yang mengurus bidang pendidikan dan mendirikan perguruan tinggi pendidikan guru (PTPG) di Bandung, Malang, dan Batu Sangkar. Dia terlibat dalam penyusunan UUD 1945 dan pernah menulis buku Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951).

Ketika kemudian setelah Indonesia merdeka muncul ide agar bahasa Jawa dijadikan bahasa nasional, Yamin menolaknya. Baginya bahasa adalah landasan utama dari eksistensi ‘bangsa’. Sebuah kalimat ‘Tiada bahasa, bangsa pun hilang’ terdapat dalam sajaknya yang ditulis tahun 1921.

Yamin bukanlah orang yang diam saja bila ada sesuatu yang tidak cocok di hatinya. Dalam sidang BPUPKI beberapa kali dia ditegur oleh ketua sidang, tetapi tetap melanjutkan uraiannya yang dianggapnya penting. Ketua sidang memintanya untuk mematuhi ketentuan rapat, tetapi Yamin menjawab bahwa dia “takluk tetapi tidak tunduk.

Yamin juga penulis handal. Ia menulis tujuh jilid buku tentang Majapahit dan sebuah buku “klasik” tentang Gajah Mada. Yamin adalah sejarawan yang memiliki pandangan bukan saja jauh ke belakang, tetapi juga jauh ke depan. Baginya bentuk yang cocok untuk negara ini adalah negara kesatuan.

Sepak terjang Yamin yang luar biasa saat masih muda tersebut membuat Pakar sejarah Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini.

Erwyn Kurniawan
Pimred Kabarumat.com

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah ESQ Life)