Saat Gelombang Cinta Bernilai Pahala

Ilustrasi. [foto: al-ghafuuru.blogspot.com]

Jatuh cinta, merupakan sebuah perasaan kewajaran yang dialami oleh setiap orang. Cinta itu lahir dan tumbuh dalam setiap insan di dunia ini sebagai salah satu hal yang fitrah dan tak bisa untuk dibunuh. Setiap orang membutuhkan cinta dan puncak dari perwujudan cinta itu asalnya dari terbentuk atau tidak sebuah keluarga yang sesuai dengan standar cinta itu.

Jika kemudian kita membedah makna cinta, maka ia memiliki banyak nama bahkan ulama sekelas Ibnu Qayyim pun sampai menuliskan kitab yang khusus untuk mengukir lebih dari 99 nama cinta. Setiap manusia memiliki perasaan ketika bertemu dengan lawan jenis, karena memang fitrahnya kehidupan di dunia ini Allah ciptakan untuk berpasang-pasangan sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz dzariyat:49)

Maka begitulah cinta yang hadir dalam relung hati pria dan perempuan, bersemi dan terkadang membuncah dalam setiap bentuk perwuudannya. Sejarah kemudian menghadirkan cerita kepada kita tentang bagaimana kisah  cinta antara dua insan, ada yang berujung sedih dan jauh dari nilai-nilai kebaikan (pahala) bahkan banyak juga yang mengajarkan kepada kita bahwa cinta antara lelaki dan perempuan tumbuh dan membawa keduanya ke surga.

Sebagai insan beriman, tak perlulah kita tiru cerita roman yang mengajarkan cinta hanya kepada fisik belaka. Cinta yang hanya berorientasi terhadap fisik ataupun hal duniawi saja maka hanya akan mengabadikan keluh kesah dan berpotensi menghasilkan kegelisahan sepanjang perjalanan pernikahan.

Menikah adalah bentuk sejatinya dari sang pencinta, ketika dua insan bertemu dan bergetar jiwanya. Maka tanyakan lah dalam hati apakah ia pasangan yang akan membawa cinta ini selalu dalam keridhoan-Nya? Cinta dalam perwujudan yang sebenarnya adalah manakala kedua insan itu melangsungkan ikatan suci dalam pernikahan, karena ia yang akan memiliki tugas suci yakni menjaga dunia ini agar terlahir dari pasangan itu yang mengagungkan asma Allah, menjaga sunnah, mencintai ulama dan menebarkan kebaikan.

Lihatlah bagaimana indahnya hadits ini:

“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

Itulah Islam memandang tentang indahnya pernikahan, tak ada di dunia ini yang seharusnya luput dari ketaatan kita sebagai mahluk kepada Allah SWT. Maka menikah itu bukan lagi urusannya mengenai finansial, urusan mengenai jabatan, urusan mengenai strata sosial atau gelar akademik melainkan urusannya hanya satu dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Maka perhatikan kedua hadits ini:

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/tahtanya mungkin saja harta/tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

Menikahlah hanya karena Allah, karena itulah yang akan menjadikan dirimu ingat ketika rasa cemburu membuncah dan ketika nada-nada sumbang mengiringi pernikahan. Menikah itu adalah episode dari rasa memberi dan menumbuhkan, karena intensitas pertemuan yang terus menerus memberikan arti kepada suami dan istri bahwa cinta itu harus tetap selalu tumbuh. Cukuplah nikmati perkataan Rasulullah saw ketika ditanya tentang istrinya Khadijah ra, maka beliau menjawab beliau adalah rizki dari Allah dan perhatikanlah bagaimana ketika ditanya Aisyah ra, beliau menjawab Ia adalah istri yang aku cintai.

Itulah menikah, tataran percintaan yang selalu dihadiri oleh ujian seberapa besar memberi pasangan dan menumbuhkan selalu rasa cinta itu.

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

Ridwan Visioner