Mengukir Marah yang Menyejarah

Ilustrasi. [foto: pakarcinta.com]

Jika anak-anak ditanya, “Siapa biasanya yang lebih sering marah padamu, ibu atau ayah?” Biasanya mereka akan menjawab serempak, “Ibuuu!”

Betul, kemarahan (dengan kata-kata) memang biasanya lebih banyak diekspresikan oleh para ibu daripada ayah. Bahasa lainnya ngomel, merepet, ngedumel, dan lain-lain. Secara kodrati, kaum perempuan lebih mahir dalam kecerdasan verbal dari pada laki-laki. Jadi, wajar kalau lebih cerewet, termasuk dalam menyikapi jika ada sesuatu yang tidak beres.

Lalu, apakah setelah dimarahi ibu, anak akan serta-merta merubah perilaku? Tentu ini tergantung banyak faktor. Oleh karena itu, kita perlu membuat format marah yang menyejarah, yaitu marah yang efektif.

Marah yang efektif antara lain ditandai dengan pemilihan kalimat yang tepat. Kalimat yang singkat tapi padat lebih disukai. Meski tak nyaman, tetap kata-kata yang keluar dari lisan seharusnya tidak nyerocos seperti mercon. Marah yang tidak terkendali ibarat memantulkan bola ke dinding berkali-kali. Semakin banyak dan keras kata yang diucapkan, semakin kencang bola berbalik ke kita lagi. Hanya membentur batang otak anak yang memasang tembok pertahanan, tapi tidak sampai meninmbulkan kesan. Peribahasa mengungkapkannya dengan “masuk telinga kanan keluar telinga kiri.”

Kalimat marah yang paling efektif adalah kalimat yang membuat anak kapok/ jera untuk mengulangi perilaku yang tidak disukai, namun juga tidak sampai membuat anak trauma apalagi stres.

Selain itu, marah akan efektif bila disandarkan pada aturan dalam keluarga. Alasan marah jelas: pelanggaran aturan, terutama aturan agama dan aturan lain yang disepakati. Jadi jelas ‘pasal’ mana yang dilanggar oleh anak, bukan berdasar suka tak suka atau subjektivitas orang tua. Oleh karena itu, jauh sebelumnya sudah harus ada aturan yang memang disepakati untuk dijalankan bersama oleh seluruh anggota keluarga (termasuk kita ibunya). Aturan ini juga biasanya membahas tentang sangsi yang harus dilakukan bila salah satu pasal dilanggar.

Marah juga akan efektif apabila kita menggunakan format dialog, tidak satu arah dari kita saja, hingga posisinya seperti jaksa dan terdakwa. Format dialog membuat anak akan lebih nyaman untuk mencoba memperbaiki diri meskipun tahu bahwa ibunya marah karena dia melakukan kesalahan. Satu lagi, marah harus dilaksanakan segera, saat pelanggaran baru berlangsung. Jika sudah ada jeda cukup lama, maka efeknya akan jauh berkurang.

Misalnya, jika ada anak yang pulang dari bermain di luar jauh melewati batas waktu yang ditentukan, daripada mengomel panjang lebih baik kita berkata, “Ibu tak suka jika kamu melanggar aturan. Tapi hari ini kamu sudah melanggar aturan yang kita sepakati, pulang main dari rumah teman lebih dari jam lima. Jadi, apa yang harus kau lakukan sekarang ?”
Mungkin anak akan menjawab, “Mengepel lantai 3 hari” (sesuai aturan yang disepakati).

Atau, saat anak hampir saja terlambat sholat, kita bisa bertanya, “Ibu ingin tahu kenapa kok sesiang tadi kakak banyak menghabiskan waktu untuk nontom tivi, sampai sholatnya hampir terlambat?”

Intinya anak memahami bahwa, “Ibu marah padamu hari ini, karena ibu tak ingin Allah marah padamu di hari akhir nanti”.

Hal yang lain lagi, marah juga tidak harus dengan kata-kata. Kadang, teknik ‘kesenyapan’ atau ‘time out’ juga diperlukan. Orang tua jaman dulu biasanya menggunakan deheman, sudah membuat kita bersegera untuk memperbaiki. Anak jaman sekarang, ada kalanya juga perlu kesenyapan semacam ini. Intinya dicuekin, tidak ditanggapi, sehingga anak merasa bahwa dia telah melakukan kesalahan,Teknik ini biasanya akan berhasil pada anak yang memang perasaannya peka.

Bagaimana jika kita terpancing untuk marah pada situasi yang tidak tepat? Situasi yang jika kita terpancing berucap justru akan marah tak terkendali? Tentu kita perlu banyak-banyak istighfar. Atau jika terasa sulit menahan diri, lebih baik kita menyingkir, pindah ke ruangan lain hingga rasa amarah kita turun. Atau bisa juga dengan mengalihkan ke hal-hal lain yang positif. Rasulullah SAW mengajarkan, jika marah supaya kita berwudhu atau sholat. Bagi para ibu, mungkin bisa juga mengalihkan dengan cara bersih-bersih rumah, mencabuti rumput, atau,… daripada marah-marah mari mengupas bawang merah. Silahkan mencoba.

Muktia Farid
Ibu dengan 3 putri dan 1 putra (1 putri sudah tiada).
Suka menulis dan ngeblog sebagai hoby dan semangat berbagi.
Sering mengisi acara seminar tentang parenting atau kemuslimahan.
Berprofesi sebagai dosen Paud di suatu PTN dan saat ini sedang menimba ilmu program doktoral Paud di UNJ)