Timnas U-19, Jokowi dan Mimpi yang Sirna

[foto: yahoo.com/fajar.co.id]

Tersingkir sudah Timnas U-19 dari pentas Piala AFC yang dihelat di Myanmar usai kalah 0-1 dari Australia. Ini adalah kekalahan kedua setelah sebelumnya Evan Dimas dkk takluk 1-3 dari Uzbekistan. Mimpi ke ajang Piala Dunia U-20 tahun depan pun sirna hanya dalam rentang waktu dua hari.

Ya, sangat singkat waktu yang diperlukan untuk membuyarkan mimpi indah pecinta bola negeri ini setelah hampir setahun lamannya mereka terbuai. Paska menjuarai Piala AFF U-19 dan diikuti dengan menjadi juara grup kualifikasi Piala AFC U-19 melalui kemenangan bersejarah versus Korea Selaran, euphoria melanda bangsa ini. Evan Dimas cs lalu dimunculkan sebagai sosok pahlawan baru yang diharapkan membawa prestasi besar.

Sadar negeri ini haus prestasi, beragam cara lalu dilakukan oleh berbagai pihak untuk terus meyakinkan publik bahwa anak-anak muda itu adalah sosok yang tepat menjadi pahlawan. Setiap gerak-gerik Timnas U-19 tak luput dari pemberitaan. Dari mulai cara mereka berlatih dengan metode es balok hingga keseharian kehidupan bintang Timnas.

Lalu digelar pertandingan ujicoba Timnas U-19 dengan kesebalasan di daerah bertajuk Tur Nusantara. Sambutan meriah selalu diberikan suporter kala mereka bertanding. Terlebih kemenangan selalu berhasil mereka raih. Tak cukup dengan itu. Dibuatlah buku dan film berisi kisah perjuangan Evan Dimas dkk dengan harapan bisa menginspirasi anak-anak muda.

Media massa memiliki peran sangat penting. Berita yang mereka sajikan kian menebalkan keyakinan bangsa ini terhadap keberhasilan Timnas U-19. Situs berita www.kompas.com bahkan punya kolam khusus untuk terus membuat kita bermimpi.

Sampai kemudian keragun mulai muncul ketika Timnas U-19 tak berdaya di ajang Piala Sultan Hasanal Bolkiah dan kemudian babak belur oleh Barcelona B dan Real Madrid C saat tur ke Spanyol.

Keraguan itu akhirnya terjawab sudah tadi sore.   Sepakan penyerang Australia ke pojok kiri gawang Ravi Murdianto membangunkan bangsa ini dari tidurnya selama setahun. Pencitraan hampir 12 bulan berujung pada hasil buruk yang tak pernah diharapkan.

Apa yang dialami Evan Dimas dkk sangat saya khawatirkan juga dialami oleh presiden terpilih Jokowi. Mereka memiliki kesamaan dalam urusan pencitraan. Dianggap sukses memimpin Solo dan DKI Jakarta, Jokowi digadang-gadang sebagai sosok yang tepat membawa perubahan bagi negeri ini. Publik pun tersihir dengan pencitraan massif yang dilakukan media massa.

Dalam pilpres lalu, Jokowi keluar sebagai pemenang. Bangsa ini pun terus dibuai mimpi indah. Mereka yakin berdasarkan apa yang diberitakan media massa, Jokowi akan mampu memakmurkan dan mensejahterakan Indonesia.

Kita tentu saja berharap mimpi indah itu akan menjadi nyata. Namun, dengan melihat fakta, peluang Jokowi bernasib sama dengan Timnas U-19 terbuka lebar: pencitraan bertahun-tahun namun sirna dalam waktu singkat.

Erwyn Kurniawan
Pimred www.kabarumat.com