Blunder Buku Kemdikbud Tentang Pacaran Sehat

Ilustrasi. [foto: okioki.tumblr.com]

Apa yang anda bayangkan jika mendengar istilah pacaran sehat? Tentu kita akan langsung berfikiran bahwa pacaran sehat itu adalah suatu hubungan dua individu berbeda jenis kelamin yang sedang melakukan pendekatan personal dalam rangka membangun keluarga baru melalui jenjang perkawinan tanpa melanggar norma norma sosial dan agama.

Secara umum itulah maksud yang ingin disampaikan tim penulis dalam buku pendidikan kesehatan dan jasmani (Penjaskes) SMA/MA/SMK kelas XI terbitan Kemdikbud semester 1. Pada halaman 128-129 di buku tersebut terdapat penjelasan tentang hal hal yang berkaitan dengan pacaran sehat termasuk gayanya. Tentu pemerintah berharap dengan penjelasan tentang pacaran sehat tersebut maka remaja Indonesia bisa terhindar dari dampak buruk pacaran yaitu perilaku seks bebas dan menyimpang

Namun, blunder terjadi pada pemasangan gambar ilustrasi tentang pacaran sehat tersebut. Pada gambar di halaman 129 tersebut digambarkan seorang remaja muda mudi yang kental dengan simbol simbol Islam. Pemuda nya menggunakan peci dan berjanggut serta pemudinya menggunakan kerudung. Simbol simbol tersebut sangat lekat menggambarkan pemuda pemudi muslim yang taat.

Pemilihan gambar tersebut menjadi blunder karena jika gambar tersebut diasumsikan sebagai remaja muslim taat, maka dalam Islam tegas tidak ada istilah pacaran jika ingin membangun rumah tangga. Dalam Islam yang di perbolehkan adalah proses taaruf dengan batas batas yang sangat ketat untuk menghindari terjadinya perbuatan zina. Perbuatan Zina dalam Islam tidak hanya terbatas perbuatan seks semata. Pengertian Zina yang lebih luas adalah perbuatan seluruh anggota tubuh yang di larang Allah terhadap lawan jenis.

Jadi, jangankan melakukan seks bebas berduaan saja tidak boleh jika tidak didampingi oleh muhrim. Sedangkan dalam gambar ilustrasi di buku penjaskes tersebut jelas menggambarkan pemuda pemudi yang sedang berduaan/pacaran.

Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini Kemdikbud harus segera mengevaluasi tim editor buku paket sekolah. Karena kesalahan kesalahan konten dalam buku paket sekolah sering terjadi. Khusus untuk buku penjaskes SMA, baiknya pemerintah menarik dan merevisi buku tersebut sebelum muncul gelombang protes yang lebih besar dari masyarakat.

Arviantoni Sadri
JSIT DKI Jakarta