Menguak Rahasia Haji

Haji. [foto: kompas.com]

Hari ini, sekitar tiga juta umat Islam berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Ibadah wukuf adalah puncak pelasanaan haji karena haji adalah Arafah. Selain wukuf, mereka yang beribadah haji juga melaksanakan thawaf, sa’i, tahallul dan melontar jumroh.

Semua rangkaian ibadah tersebut memiliki manka dan filosofis luar biasa. Banyak rahasia yang jika kita mengetahuinya akan kian menambah kualitas ibadah haji yang kita laksanakan. Apa saja rahasianya? Mari kita menguaknya.

Mengapa gerakan Thawaf berlawanan dengan arah jarum jam?

Aktivitas pertama yang dlakukan Rasulullah saw ketika tiba d Mekah adalah berwudhu kemudian thawaf di Ka’bah. Karena itu, para jamaah haji hendaknya memprioritaskan berthawaf sebelum melakukan kegiatan lain ketika sampai di Mekah. Lalu, mengapa gerakan thawaf—yang dimulai dari Hajar al Aswad dan memposisikan Ka’bah di sebelah kiri kita– berlawanan dengan arah jarum jam? Ini berlawanan dengan kebiasaan Rasulullah yang selalu memulai pekerjaan dari sebelah kanan.

Rahasianya adalah keserasian alam. Secara makro kosmos, semua benda luar angkasa (planet, matahari, galaxy, cluster galaxy, super cluster galaxy) yang jumlahnya tak terhitung, bergerak berputar dari kiri ke kanan. Begitu juga dengan perputaran elektron (satuan atom yang mengandung listrik).

Secara mikro kosmos, triliunan sel-sel yang ada dalam tubuh kita pun bergerak dari kiri ke kanan. Termasuk gerak berputar DNA yang terdapat dalam diri kita. Dan tahukah jika Anda jika sirkulasi darah bergerak dari kiri? Sirkulasi darah dimulai dari jantung, kemudian dipompa dan dalirkan ke semua tubuh dari arah kiri.  (Jika dilengkapi gambar akan sangat bagus. Banyak terdapat di internet)

Semua ini menunjukkan bahwa seluruh alam semesta bergerak berputar seraya bertasbih kepada Allah.

“Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetap kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. 17: 44)

Allah telah mengatur semua itu dengan kuasa-Nya. Alam dan seisinya berthawaf menyembah Allah, dan kita pun turut serta melakukan hal yang serupa. Mereka tunduk kepada aturan main Allah, dan kita pun demikian. Saat kita berthawaf, sesungguhnya kita secara bersamaan sedang bergerak bersama dengan alam semesta lainnya: bersama matahari, planet, galaxy,  termasuk bumi yang kita  pijak dan sel-sel dalam tubuh kita sambil bertasbih:

Allahumma inna naudzu bi ridhaka min sukhtika, wa bimu afatika min ‘uqubatika wa bika minka, la nuhshi tsana’an ‘alaika anta kama atsnaita ‘ala nafsika.

(Ya Allah, kami berlindung dengan ridha-Mu dar segala murka-Mu, dan dengan maaf-Mu dar segala hukuman-Mu, dan dengan-Mu dari segala yang akan Kau timpakan, pujian yang kami ungkapkan takkan pernah sempurna, sebagaimana Engkau menyanjung atas diri-Mu)

Inilah hukum keserasian alam. Sebuah kesatuan ibadah antara seorang muslim yang sedang berhaji dengan alam semesta. Siapa saja yang melawan kehendak Allah, dengan tidak mengikuti aturan main-Nya, maka kita akan terpental, tergilas dan keluar dari garis kehiduan yang telah Allah tentukan.

Mengapa Sa’i  dari Bukit Shafa ke Marwah?

Sa’i berawal ketika Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as, berlari-lari kecil tak kenal lelah mencari air untuk anaknya, Ismail. Ia terus berlari dari Bukit Shafa ke Marwah, tak kenal henti hingga tujuh kali. Siti Hajar tidak putus asa meski di sekelilingnya hanyalah hamparan padang pasir tandus nan gersang. Debu-debu yang beterbangan dihembuskan angin gurun pasir tak menyurutkan langkahnya.

Ia terus berikhtiar. Tujuannya hanya satu: mendapatkan air untuk anaknya tercinta. Kerja kerasnya berbuah manis. Siti Hajar mendapatkan air (zam-zam) yang tak hanya cukup untuk anaknya, Ismail, tapi juga untuk seluruh umat Islam d dunia, hingga saat ini, 1400 tahun kemudian.

Sa’i  adalah simbol keyakinan yang kokoh kepada Sang Pencipta. Siti Hajar sangat yakin, air yang dicarinya akan didapatkan, meski di padang pasir sekalipun. Ia terus berlari, berlari dan berlari, tak kenal lelah. Karena ia yakin, Allah akan memberikan pertolongan.  Keyakinan yang kokoh ini mengubah sesuatu yang kemungkinannya kecil menjadi besar.

Air di tengah gurun pasir nan gersang sangat kecil kemungkinanya untuk ditemukan. Namun, karena keyakinan yang kuat, Siti Hajar melihat peluang tersebut sangat besar. Untuk itu, ia terus berikhtiar dan berdo’a.

Sa’i merupakan gambaran dari kekuatan karakter. Siti Hajar memiliki mental baja  (unshakable mentality). Manusia yang tak pernah putus asa dan pantang menyerah. Ia tak menyerah meski usahanya mendapatkan air di tengah padang pasir bagai mencari jarum di semak belukar. Ia terus bekerja, berlari tak kenal henti.

Dengan Sa’i, kita diajak oleh Allah untuk menjadi Siti Hajar-Siti Hajar modern, ketika kita memiliki keyakinan kuat meraih sukses dengan menyingkirkan segala macam rintangan kehidupan yang menghadang di depan. Siti Hajar modern adalah saat kita yakin bahwa kita akan sukses dalam karir tanpa harus menyuap. Ketika kita yakin bahwa kita akan mampu menghidupi anak dan istri kita, tanpa perlu korupsi. Kita terus berlari, bekerja keras dan cerdas, menahan godaan KKN yang ada di sekeliling kita, demi satu obsesi: mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Itulah zam-zam.

Sa’i juga bukti penghormatan Islam kepada wanita. Fenomena Siti Hajar kian menambah daftar panjang hal itu. Kita tentu mengetahui, Siti Khadijah adalah wanita pertama yang memeluk Islam. Sedangkan Sumayyah, menjadi wanita pertama yang mati syahid. Belum lagi Siti Aisyah yang dimuliakan Islam karena kecerdasannya. Masihkah ada bentuk penghormatan terhadap wanita melebihi apa yang dilakukan Islam?

Mengapa harus mencukur rambut (tahallul)?

Tahallul lebih afdhal dilakukan dengan mencukur habis semua rambut di kepala tanpa tersisa. Bagi yang hanya memendekkannya saja, tidak masalah seperti yang diriwayatkan dalam hadits Shahih Bukhari dan Muslim. Apa rahasia dibalik tahallul?

Rambut di kepala adalah simbol perhiasan dunia yang menggelayuti diri kita. Ketika kita mencukur habis rambut saat bertahallul, sesungguhnya kita sedang melepaskan dan membersihkan diri kita dari perhiasan dunia.  Semuanya kita buang demi mengharap ridha Allah.

Rambut yang mudah dipangkas, baik dengan gunting atau pisau cukur sama persis dengan harta dunia yang dengan mudah bisa hilang seketika. Apa artinya rambut? Apa artnya kendaraan? Apa artinya rumah mewah? Apa artinya jabatan? Apa artinya kekuasaan? Semua itu akan mudah hilang dan pantas untuk dilepaskan untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.

Mengapa melontar jumrah harus dengan batu kerikil?

Melontar jumrah di Aqabah adalah kegiatan pertama yang dilakukan jamaah haji setibanya di Mina.  Melempar jumrah dilakukan dengan menggunakan kerikil-kerikil yang telah dikumpulkan di Muzdalifah, atau tempat lainnya. Ukuran batu yang disunahkan sebesar biji kacang, sebanyak tujuh buah.

Lontar jumrah bermula ketika Nabi Ibrahim as digoda oleh setan saat akan menyembelih Ismail.  Nabi Ibrahim melontarkan batu kea rah setan sebanyak tujuh kali hingga akhirnya setan terbenam ke dalam tanah.(HR Baihaqi).

Lontar jumrah adalah lambang perlawanan kita kepada setan yang terus menggoda kita sepanjang waktu. Saat batu kerikil kita lontarkan, sesungguhnya kita sedang  berkata,” Menyingkirlah wahai setan. Aku tidak akan terbujuk olehmu untuk melakukan penyuapan dan korupsi.”  “Enyahlah wahai setan, aku tidak akan tergoda untuk berbuat maksiat: berjudi, berzina, dugem dan lainnya.” “Menjauhlah wahai setan, aku tidak akan pernah menyekutukan Allah .”

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. 35: 6)