The Winner: Prabowo atau Jokowi?

Joko Widodo dan Prabowo Subianto. [foto: iberita.com]

Ada sebuah tanya menyeruak saat Koalisi Merah Putih (KMP) berhasil menjadi pimpinan DPR periode 2009-2014, tadi Subuh. Siapa sesungguhnya pemenang pilpres lalu: Prabowo atau Jokowi?

Pertanyaan itu pantas diapungkan mengingat sudah tiga kali KMP mengalahkan Koalisi Jokowi-JK yang dipimpin PDIP. Sebelumnya mereka kalah saat voting revisi UU MD3 dan Pilkada Langsung. Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? PDIP pemenang pemilu dan Jokowi sukses di pilpres tapi kemudian tak berdaya menghadapi kesolidan KMP?

Pada tulisan saya yang berjudul Andai TK Masih Ada, saya menyimpulkan bahwa ini karena kegagalan Jokowi-JK membangun komunikasi politik. Kegagalan itu bersumber dari dendam politik yang terus dipelihara Megawati kepada SBY dan Prabowo.

Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi fakta di lapangan kita melihat dendam itu masih lestari. Dengan SBY, hampir tak pernah Mega bertemu kecuali saat mendiang suaminya Taufik Kiemas masih ada. Bahkan saat diundang  menghadiri Upacara Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945 pun Mega selalu menolak dengan berbagai alasan.

Dengan Prabowo juga setali tiga uang. Sempat berpasangan dalam Pilpres 2009, keduanya kemudian berpisah di 2014. Perseteruan keras terjadi sebelum hingga sesudah Pilpres. Yang paling menyedihkan, Mega tidak takziah (melayat) saat Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi meninggal dunia bulan lalu.

Dendam apalagi dalam politik hanya dimiliki oleh mereka yang bermental pecundang atau The Looser. Orang-orang kalah selalu mengungkit masa lalu dan melihat keburukan orang lain. Mereka tidak legowo atau lapang dada. Di dalam api dendam terdapat bara ketidaktulusan dan kebencian. Bara yang pasti akan dirasakan oleh pihak-pihak yang diajak berkomunikasi oleh Megawati.

Mental pecundang inilah yang akhirnya menisbikan keunggulan modal politik Jokowi-JK. Sebagai pemenang pilpres mereka ternyata tak mampu menggoda KMP dengan gula-gula kekuasaan. Tawaran kursi menteri tak cukup kuat untuk merubuhkan benteng pertahanan KMP. Mega tak mampu mengikuti jejak SBY yang bisa merangkul banyak partai untuk mendukunya di parlemen.

Kondisi sebaliknya terjadi pada Prabowo. Kalah dalam Pilpres ternyata tak menyurutkan langkahnya untuk terus menyatukan KMP. Tak ada tawaran menteri, tapi Prabowo mampu membuat KMP kian solid. Hingga hari ini, Prabowo telah membuat langkah besar dalam sejarah politik di Tanah Air yang oleh banyak kalangan dianggap mustahil. Ia bisa membuat KMP permanen, setidaknya hingga hari ini. Seorang pecundang di Pilpres tapi oleh mitra koalisinya masih dipercaya sebagai pemimpin.

Ini menjadi bukti tak terbantahkan betapa piawainya Prabowo dalam membangun komunikasi dan mengkohesikan partai-partai di KMP. Sungguh hal tak mudah mengingat tak ada modal kekuasaan yang dimiliki Prabowo untuk membuat mitra koalisinya bertahan.

Karena itu, layak kiranya kita bertanya: siapa sesungguhnya The Winner atau Sang Pemenang itu: Prabowo atau Jokowi?

Erwyn Kurniawan
Pimred Kabarumat.com