Belajar Menciptakan Panggilan Spesial

Ilustrasi. [foto: pondokibu.com]

Masih tentang panggilan khusus buat pasangan. Sebelumnya, tentang serba serbi panggilan spesial untuk dia yang spesial dan bagaimana sekilas sejarahnya jaman Nabi bisa dibaca di sini.

Orang yang mungkin tadinya tak kita kenal itu (atau hanya sekilas mengenal) mendadak menjadi orang terdekat yang tahu banyak hal tentang kita. Panteslah ada kagok-kagoknya mau manggil apa. Waktu awal nikah, malah suami sempat keceplosan panggil saya “anda”. Halah, mungkin karena waktu itu beliau lagi sering ngasih penataran, lupa kalau saya ini istrinya, bukan peserta penataran. “Iyaaa, Bapak penatar…” jawab saya bercanda yang disambut senyum malu plus tonjokan sayang 😀

Waktu itu, saya juga mikir. Saya pengin manggil apa ya ke suami? Mungkin, sebagaimana dulu saya meminta saat usai aqad nikah untuk dibacakan surat Al-Anfaal, bukan Ar-Rahman…. saya juga memilih panggilan yg lebih ‘heroik’ untuk beliau, yang nuansa perjuangannya lebih terasa. Bukan suasana yg romantis-romantisan belaka. Itu nilai yg saya yakini tentang pernikahan.

Bukan berarti tak suka dengan panggilan cinta, honey, sweety, beib, ay, dsb… tapi merasa kurang sreg aja. Apalagi untuk yang jelas-jelas dari bahasa Inggris seperti honey atau sweety, halah… lha wong makanannya tempe bacem sama gethuk lindri, kok rasanya nggaya banget kalau saya pakai panggilan kayak begitu 😀

Nah, pas nemu gambar ini beberapa hari yang lalu, jadi ketawa ngikik. Katanya tentang sejarahnya panggilan beib dan ay. Gak tahu validitasnya, namanya juga katanya.

bebek

Beberapa kawan ada juga yang lempar joke, bilang begini: “Ati-ati kalau dipanggil say, bisa jadi kepanjangannya sayton” (nah lo!).
“Ati-ati dengan ‘darling’, itu bisa aja artinya modar ora eling, atau dia lagi laper jadi inget dadar guling” 😀

Satu hal, saya merasa kata-kata panggilan semacam itu sudah pasaran juga ah, banyak yang pakai. Sedang saya cenderung menghindari sesuatu yang pasaran. Termasuk untuk nama anak, sengaja memilihkan nama yang sifatnya konsep, bukan nama sahabat/tokoh yg pernah ada dan banyak dipakai orang lain. Puas saja rasanya bisa mengkreasi nama yang tidak atau jarang sekali dipakai orang lain.

Menurut saya juga nih, panggilan-panggilan itu, kalau sekali-kali dipakai untuk momen tertentu, tak apa. Itu variasi yg menyegarkan suasana. Ini rasa bahasa saya saja sih, mungkin. Tapi kalau keseringan dipakai, kok jadi makin ‘tawar’ ya? Kata ‘sayang’ misalnya, kalau keseringan diucapkan, malah jadi ‘greget’nya kurang. Sebentar-sebentar sayang. Minta dibikinin teh bilang sayang, ngajak makan bareng bilang sayang, minta dipijitin bilang sayang juga. Sayang-sayang sipatooo kaang deh lama-lama *nyanyi*

Nah, lalu saya manggil apa ke suami? Saya pilih memanggil dengan sesuatu yang kesannya gagah, lincah, terus bergerak. Maka saya pilih my eagle, rajawaliku (kalau garuda, emoh ah. Sudah didaulat mbegagah jadi gambar di kantor-kantor dan sekolah). Panggilan pada suami itu saya pakai hingga sekarang, tapi khusus untuk bahasa tulis formal.  Lho kok bahasa tulis formal? Lha iya dong, kan tetap masih suka surat-suratan, minimal email. Ehm…
Sedang untuk bahasa verbal ya cukup ‘mamas’ aja, atau ‘ayah’ jika sekarang, saat ada anak-anak. Kalau bahasa tulis non formal seperti bbm, wa, sms ya cukup ‘mamas’ seperti bahasa verbal saja.

Nah, dulu ituuu, waktu pertama saya gunakan ‘my eagle’ itu untuk ber-email ria, komentar beliau spontan banget, “Iya sekarang sih eagle. Tapi entar kalau sudah mbah-mbah, jadi emprit deh”
Wakakak. Adaaa aja

Muktia Farid
muktiafaridberbagi.worpress.com