Megawati, Biji Salak, dan Politik Senjakala

Megawati Soekarnoputri. [foto: tabloidpulsa.co.id]

Jokowi hampir saja membuat Megawati Soekarnoputri tersedak. Bermula dari permintaan presiden terpilih itu kepada Megawati untuk kembali menjadi ketua umum PDI-P pada periode 2015-2020. Merespons permohonan Jokowi itu, Megawati nyaris saja menelan biji salak.

“Enggak tahu ya ini (Jokowi) tiba-tiba inspirasinya apa sehingga memang saya kaget juga. Kebetulan saya lagi makan salak, hampir saja ketelan bijinya,” seloroh Megawati, seusai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDI-P di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (20/9/2014).

Hari ini, mereka yang menjadi ketua umum partai politik di Indonesia telah memasuki periode senjakala. Usia mereka sudah tak lagi muda. Mereka sudah memiliki cucu hasil pernikahan anak-anaknya.

Berapa usia Megawati saat ini? 67 tahun!

Berapa usia SBY yang kini memimpin Partai Demokrat? 65 tahun!

Berapa usia Prabowo Subianto yang didaulat memimpin Partai Gerindra? 63 tahun!

Berapa usia Hatta Rajasa saat memimpin PAN? 61 tahun!

Berapa usia Wiranto yang masih memimpin Hanura hingga kini? 67 tahun!

Berapa usia Surya Paloh yang menjadi orang nomor satu Nasdem? 63 tahun!

Berapa usia Emron Pangkapi yang didapuk menjadi Pjs Ketua Umum PPP? 57 tahun!

Fakta ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada era sebelum dan paska kemerdekaan. Kala itu, para pemimpin partai politik dan ormas justru berusia muda!

Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tanggal 16 Oktober 1905 ketika ia baru berusia 27 tahun. Lalu Sutomo baru berusia 20 tahun saat mendirikan Budi Utomo. Ada nama Ki Hajar Dewantara baru berusia 20 tahun ketika mendirikan Indische Partij pada tahun 1912 bersama-sama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Ada juga Mohammad Hatta yang mulai memimpin Perhimpunan Indonesia ketika usianya baru 21 tahun. Disusul Agus Salim dan Cokroaminoto yang mulai aktif memimpin Sarekat Islam pada umur 22 tahun. Kemudian Soekarno menjadi ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) pada usia 26 tahun. Dan M. Natsir yang menjadi pemimpin Partai Masyumi di usianya yang ke 42 tahun.

Dari sekian banyak partai politik, hanya PKS yang seakan mengikuti jejak founding fathers yakni menempatkan kadernya yang masih muda menjadi pemimpin. Itu bisa dilihat dari usia anis Matta, yang saat dipilih menjadi Presiden PKS masih berusia 45 tahun.

Sekjen PDI-P Tjahjo Kumolo punya alasan sendiri tentang ini. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu membantah tidak ada regenerasi di partainya berkaitan dengan dipilihnya kembali Megawati.

“Regenerasi muncul ketika anda melihat pengurus-pengurus cabang, ketua DPD, Ketua DPR Kota atau Kabupaten. Banyak yang muda-muda,” katanya.

Menurut Tjahjo, jika ingin melihat regenerasi jangan dilihat dari satu struktur saja, tapi dilihat secara luas. “Pengertian regenerasi jangan dilihat dari satu struktur saja, tapi secara komprehensif,” ujarnya.

Berjuta dalih silakan dilontarkan Tjahjo dan mereka yang masih tetap mengusung orang-orang tua menjadi pemimpin partai. Tapi satu hal yang pasti dalam menggambarkan fenomena di atas adalah karena mandegnya regenerasi yang berkelindan dengan upaya mempertahankan atau mengejar kekuasaan. Kita patut khawatir dengan kenyataan ini. Bagaimanapun, perbedaan usia menentukan cara berpikir dan bertindak seorang pemimpin, terutama di saat-saat kritis.

Coba kita bandingkan hasil dari dua fakta di atas. Para pendiri bangsa ini yang mulai bergelut dengan dunia politik dan meenjadi pemimpin di usia muda menghasilkan sesuatu yang menyejarah: kemerdekaan Indonesia. Bertolak belakang dengan hasil yang diperoleh generasi sekarang saat mereka yang lanjut usia masih nyaman memimpin partai politik. Negeri ini, kata banyak pihak, masih terjajah. Bukan secara fisik, tapi dalam hal ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Megawati boleh berseloroh. Namun, keputusannya menerima permintaan Jokowi membuat biji salak dan masa depan politik negeri ini memiliki nasib berbeda. Jika biji salak telah “selamat” tak tertelan Megawati, tapi kita terpaksa menelan sebuah pil pahit menyakitkan bernama politik senjakala yang berpotensi membuat negeri ini terus terpuruk. Bilakah ini berakhir?

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Pimred Kabarumat.com