Jokowi, Slank, dan Revolusi Mental, Semoga Hanya Khilaf

Jokowi dan Slank. [foto: presiden-indonesia.com]

Selasa sore, di Gang Potlot, Jakarta Selatan. Hari itu, (27/5/2014), Jokowi yang masih menjadi capres menggelar pertemuan dengan Slank. Bimbim dan kawan-kawan menjamu makan Jokowi. Bahkan, sebelum pertemuan dihelat, mereka melaksanakan sholat Ashar berjamaah dengan Jokowi sebagai imam. Revolusi Mental menjadi alasan Jokowi bertamu.

“Slank adalah contoh ‘Revolusi Mental’. Saya bahkan juga mendapatkan masukan, lima lembar, mengenai, pertama tujuh ide moral Indonesia, misalnya sistem birokrasi online dan terbuka. Lalu ada pendidikan moral adat dan kesopanan, lewat revolusi mental,” ujar Jokowi kepada wartawan, didampingi para personel Slank.

Saya mengggarisbawahi kalimat pendidikan moral adat dan kesopanan yang diucapkan Jokowi. Rangkaian kalimat indah ini seolah menjadi tanpa makna ketika ada sebuah berita tentang Slank yang bertolak belakang. Kabar itu soal foto personil Slank yang nyaris bugil. Foto mereka terpampang dalam buku fotografi suami Denada, Jerry Aurum yang bertajuk On White. Buku tersebut diluncurkan, Rabu (17/9/2014) di Senayan City, Jakarta Pusat.

Di foto tersebut terpampang jelas bagaimana para personel Slank seperti Kaka, Bimbim, Ivanka, Abdee, dan Ridho tampil menjijikkan dan tanpa rasa malu. Kelimanya berpose menghadap kamera dan nampak mempelorotkan celana. Ironisnya masing-masing berpose seolah mempertontonkan kemaluan mereka yang ditutupi dengan penutup alakadarnya. Melihat foto tersebut, dengan mudahnya kita menyimpulkan tiada kesopanan dan moral. Dua hal yang justru bagian dari ide Revolusi Mental yang ditawarkan Slank dan Jokowi mengamininya.

Redaksi Kabarumat.com tidak hendak mengadili Jokowi dan Slank soal ini. Bagaimanapun, Slank khsuusnya telah menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. Dan lagu-lagunya pun banyak menyuarakan ketidakadilan dan carut-marutnya kondisi di negeri ini. Pendek kata, Slank adalah ikon perubahan.

Karena itulah, melalui tulisan ini, kami ingin mengingatkan Slank dan tentu saja Jokowi, bahwa ide Revolusi Mental harus berbanding lurus antara kata dan perbuatan. Hanya dengan itulah perubahan yang diharapkan akan terjadi. Revolusi Mental pun tak akan cuma jadi slogan yang indah terucap saat kampanye namun menguap ketika kekuasaan sudah tergenggam.

Begitulah konsekuensi logis kekuasaan, apalagi saat meraihnya membuat bangsa ini nyaris terbelah dua. Dan ketika Jokowi kemudian resmi menjadi pemenangnya, setiap lakon, sikap, tutur kata dia dan pendukungnya akan terus menjadi sorotan. Termasuk soal Slank yang nyaris bugil.

Akhirnya, cuma kalimat ini yang bisa kami tuliskan: Semoga Slank hanya khilaf.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Pimred Kabarumat.com