Agar Kita menjadi Telur

[foto: galeritelur.com]

Sebuah pesan pendek dikirim istri saya. Tulis dia, “Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan; bukan apa yang kita inginkan. Kita meminta kekuatan, justru Allah memberi kita kesulitan agar menjadi tegar. Ketika kita meminta kebijaksanaan, maka Allah memberi kita masalah untuk diselesaikan. Di saat kita meminta kekayaan, maka Tuhan memberi kita tenaga dan pikiran untuk bekerja.

Pesan ini mengingatkan saya pada kisah orang-orang sukses. Simaklah jalan hidup mereka. Sebelum mereka menggapai keberhasilan, rangkaian penderitaan hidup menimpa mereka. Soichiro Honda, misalnya. Keluarganya miskin, wajahnya tidak tampan, fisiknya lemah, dan ia sering jatuh sakit. Akibatnya, Soichiro kerap rendah diri di hadapan teman-teman sebayanya. Selama belajar, tak pernah ia duduk di kursi terdepan, dan selalu menjauh dari pandangan guru. Ia sering mendapat nilai jelek. Berbagai pekerjaan ia lakoni: dari petugas kebersihan hingga mengasuh bayi.

Ketika mulai berbisnis, dua kali pabriknya ludes terbakar. Tapi ia tak putus asa. Soichiro bangkit dari keterpurukan. Hasilnya: Honda menjadi salah satu raja otomotif di dunia, hingga kini.

Dalam hidup ini, kesulitan dan kesenangan ibarat sepasang mata uang yang akan datang silih berganti. Persoalannya, teramat banyak orang yang tak mampu lulus dari penderitaan. Ketika ada masalah sedikit, kita menjadi lemah, tak bersemangat dan putus asa. Padahal, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menjadikan kita kuat, tegar dan sukses.

Sayangnya, kerap kali kita tak menyadari itu. Kita ingin segala sesuatunya serba instan. Tak mau ada proses panjang untuk meraih kesuksesan. Tak mau ada kesulitan utnuk menggapai keberhasilan. Tak mau ada duri untuk melewati jalan kemenangan.

Saya menganalogikan ini dengan singkong dan telur. Perhatikan baik-baik kedua makanan itu setelah direbus di atas api dan di dalam air panas nan mendidih. Singkong, yang semula keras, menjadi empuk dan lembek setelah direbus. Sebaliknya dengan telur, menjadi keras atau padat setelah direbus.

Proses perebusan pada singkong dan telur sesungguhnya adalah ujian, cobaan, ataupun kesulitan hidup yang dialami manusia. Setelah selesai proses tersebut, hanya ada dua pilihan: menjadi lembek seperti singkong atau menjadi keras seperti telur. Orang-orang sukses adalah mereka yang memilih menjadi telur. Sedangkan orang-orang kalah adalah mereka yang memilih menjadi singkong

Karena itu, tak perlu khawatir dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Itu hanya sebuah skenario dari Allah agar kita menjadi telur; bukan singkong.

Erwyn Kurniawan