Menjadi Istri Qurrota ‘Ayun

Ilustrasi. [foto: alsofwa.com]

Saat itu aku berjalan di koridor Rumah Sakit, kulihat ada sepasang suami istri sambil menggendong anaknya. Mereka bercanda gembira, terlihat sekali mereka bahagia. Wajah suaminya cukup tampan, namun wajah istrinya biasa saja dengan kulit hitam dan tubuh gemuknya. Masyaa Allah, kulihat mereka berbahagia sekali, terlihat hangat untuk ukuran sebuah keluarga. Beberapa keluarga lainnya yang saya temui adalah seorang akhwat bermata tak sempurna, ada sedikit juling, tapi suaminya sangatlah tampan, saya yakin akhwat ini dipilih karena ketaatannya pada Allah dan karena kelembutan, keramahan hatinya. Akhwat-akhwat ini terpilih bukan karena paras cantik tapi karena kecantikan ruhiyahnya yang terpancar menjadi penentram jiwa (Qurrota A’yun).

Qurrota ‘ayun yang disebutkan dalam Al-Qur’an memunculkan berbagai pendapat yang beraneka ragam dan kesimpulan. Arti dasar qurrota a’yun yang tertera dibawah ini yang berbunyi:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” {Q.S. Al-furqon:74}

Imam Al Bashri mengatakan saat ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata,
“Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman, demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya ta’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Sementara Imam Qurthubi menjelaskan:
“Qurrata A’yunin” adalah Sesungguhnya jika manusia diberi berkah dalam harta dan anaknya, maka matanya menunjukkan kebahagiaan karena keluarga dan kerabatnya. Sehingga ketika ia mempunyai seorang isteri niscaya berkumpul di dalam dirinya angan-angan kepada istrinya berupa: kecantikan, harga diri, pandangan, dan kewaspadaan. Jika ia memilki keturunan, senantiasa menjaga keta’atan dan membantunya dalam menunaikan tugas-tugas agama dan keduniaan, serta tidak berpaling kepada suami yang lain, dan tidak pula kepada anak yang lain. Sehingga matanya menjadi tenang dan tidak berpaling kepada yang lainnya, maka itulah kebahagiaan mata dan ketenangan jiwa.

Sungguh indah jika sebuah keluarga terdapat jiwa-jiwa yang Qurrota a’yun, wajah yang menentramkan jiwa seorang hamba meskipun secara fisik jauh dari sempurna.

Bagaimana caranya agar kita menjadi istri yang Qurrota a’yun ? Menjadi istri yang Qurrota a’yun tidaklah perlu make up mahal di mall, dengan perawatan tubuh ala artis yang tabaruj dan pamer aurat. Bidadari surga memanglah cantik, tapi dia bukan tercipta dari make up mahal, baju mewah, dan perawatan eksklusif. Bidadari surga bukanlah seorang pengumbar aurat di dunia, secantik apapun wanita itu di dunia.

Lantas, apa yang membuat wajahmu bisa menjadikan diri dan keluarga kita sebagai Qurrota a’yun?

Berikut beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang disadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423:

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Masyaa Allah, di dunia menjadi Qurrota a’yun, di akhirat menjadi bidadari surga. Semoga Allah karuniakan kami dan keturunan kami menjadi penyejuk hati. Aamiin. (Nurul Septiani)