Sahabat, Betapa Rendah Hatinya Engkau

Ilustrasi. [foto: fueld.com]

Sebuah pesan masuk ke inbox akun Facebook saya, sekitar dua pekan menjelang pilpres. Ternyata dari seorang sahabat saya di SMA yang kini berada di salah satu negara Eropa, bertugas di sana sebagai pejabat KBRI. Dialog pun terjadi antara saya dengannya.

Sahabat saya: Apa kabar win…? koq gak ada comment nih ttg copras capres… ane bingung nih… pilih yang mana… ada pencerahan dari ente… #serius ini#…

Saya :Hahaha…secerdas ente mah gaa bakal bingung bos

Sahabat saya: Jadi siapa yg layak dipilih…? jika dari tulisan ente..ane liatnya gak ada yg sempurna…

Saya : Meemang ga ada yg sempurna bos… kita kan bukan sdg memilih maalaikat… dst…

Dialog tak saya tampilkan semua untuk menjaga kerahasiaan pilihan sahabat saya. Toh bukan itu yang penting. Karena pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan singkat ini adalah betapa rendah hatinya sahabat saya.

Dia bukan orang sembarangan saat ini. Cerdas? Tentu saja. Belajar dan berrtugas ke berbagai negara sudah menjadi rutinitasnya. Posisinya pun kini cukup strategis di Kementerian Luar Negeri. Bahkan, saya kerap mencandainya dengan menyebut sebagai calon duta besar. Tapi, kepolosannya bertanya kepada saya soal siapa yang harus dipilih dalam pilpres membuat saya beruntung memiliki sahabat seperti dirinya.

Dia menjadi sangat istimewa bagi saya, di saat begitu banyak orang yang fanatik buta dengan pilihannya yang boleh jadi tanpa tahu banyak tentang sosok presiden yang didukungnya. Atau tanpa pernah bertanya lebih dulu tentang latar belakang dari A hingga Z sang capres.

Sahabat saya menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang rendah hati. Dan kepribadian semacam itu muncul karena sadar betapa memilih pemimpin bukanlah urusan sederhana dan ringan. Tak cuma di dunia kita akan dimintai pertanggungjawaban, tapi juga di akhirat kelak. Karena itu, tak sungkan ia bertanya kepada saya untuk urusan tersebut. Dan saya berkeyakinan, tak hanya saya yang menjadi tempat bertanya dia.

Saya membayangkan, andaikata saja kerendahatian sahabat saya juga diikuti oleh jutaan rakyat Indonesia…
Ahh sudahlah…

Erwyn Kurniawan
Penulis Tetap Kolom refleksi kabarumat.com