Sudahkah Kita Bersyukur Hari ini?

[foto: firstcovers.com]

Alkisah, ada seorang pemuda yang taat beribadah. Ia tak pernah meninggalkan sholat lima waktu; rajin puasa sunnah, sholat dhuha hingga bertahajjud hampir setiap malam. Sebuah do’a kerap ia panjatkan usai beribadah, terutama di malam hari. “Ya Allah…Berikan aku sebuah mobil seharga Rp 60 juta agar untuk memudahkan segala urusanku.”

Do’a itu terus ia ucapkan. Ia begitu yakin Allah akan mengabulkannya. Satu tahun pemuda alim itu menunggu, namun mobil yang diidamkannya tak kunjung datang. Tahun kedua, do’anya juga belum terkabulkan. Tapi ia terus berdo’a hingga menginjak tahun kelima.

Rasa kecewa mulai membayanginya. Ia tak paham mengapa Allah tak juga mengabulkan permintaannya. Padahal, ia telah begitu taat beribadah. Ia pun mulai berhenti memohon kepada Allah. Sang pemuda putus asa.

Hingga suatu ketika, ia pergi ke suatu kota bersama seorang temannya dengan menaiki kendaraan umum. Di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi ditabrak truk besar. Kecelakaan tak terhindarkan. Para korban dilarikan ke rumah sakit, termasuk pemuda alim dan temannya. Beruntung, sang pemuda tak mengalami luka serius.

Berbeda dengan rekannya, yang harus dioperasi karena luka parah. Dan biaya operasi itu sebesar Rp 60 juta. Mendengar angka tersebut, sang pemuda alim sangat terkejut. Angka itu adalah jumlah uang yang ia minta untuk membeli mobil, seperti yang ia panjatkan dalam setiap doanya. Ia baru sadar, ternyata Allah telah mengabulkan doanya dengan cara lain. Bukan dalam bentuk mobil seharga Rp 60 juta, tapi nikmat kesehatan dengan nominal yang sama.

Bisa jadi, sang pemuda di atas adalah diri kita sendiri. Dalam setiap do’a, kita selalu meminta ini dan itu. Kita kemudian kecewa karena Allah tak pernah mengabulkan do’a kita. Padahal, boleh jadi, Allah telah mengabulkan do’a kita dalam bentuknya yang lain, tanpa kita sadari.

Itulah diri kita yang kerap kali meremehkan nikmat yang telah Allah berikan. Kita tak pernah bersyukur dengan udara segar gratis yang bisa kita hirup setiap saat dan disaat yang sama begitu banyak orang yang harus dibantu pernafasannya dengan tabung oksigen. Kita tak pernah bersyukur denan nikmat penglihatan meski disaat yang sama banyak orang tak bisa melihat. Kita tak pernah bersyukur dengan nikmat telinga sehingga membuat kita dapat mendengar walau disaat yang sama begitu banyak orang yang tuli.

Padahal, Allah telah mengingatkan kita agar menjadi orang yang bersyukur agar Dia menambah nikmat-Nya. Dan jangan sekali-kali menjadi orang yang tak bersyukur karena azab-Nya sangat pedih. Syukur, tak sekadar ungkapan rasa terimakasih kita kepada Allah. Tapi juga sebagai salah satu cara bagi kita menuju orang sukses. “Jadilah orang yang sabar dan bersyukur agar dapat sukses dunia dan akhirat,” begitu pesan Ary Ginanjar kepada saya, dalam suatu kesempatan.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Erwyn Kurniawan