Mendadak ISIS

[foto: Telegraph]

Sebuah kata yang terdiri dari empat huruf tiba-tiba saja menjadi gunjingan dunia internasional. Begitu cepat isunya mengglobal seakan jauh lebih penting dibandingkan kekejian militer Zionis Israel terhadap rakyat Gaza, Palestina.

Di Indonesia, empat huruf tersebut juga bergulir sangat cepat. Terlebih ketika tersebar berita ada warga negara Indonesia yang bergabung dan aksi mereka bisa disaksikan di youtube.

Empat huruf itu adalah ISIS, kepanjangan dari Islamic State Of Iraq and Syria. Organisasi ini muncul di Iraq dan mengklaim dirinya sebagai penegak khilafah Islamiyah.

Kontroversi segera merebak. Klaim menegakkan khilafah Islamiyah dengan cara-cara kekerasan menjadi musabab utamanya. Hingga Syaikh Yusuf Qorodhowi pun perlu angkat bicara dengan menyatakan bahwa ISIS tidak sesuai syariah Islam.

Kemunculan ISIS yang sangat tiba-tiba dan penuh dengan darah menimbulkan banyak pertanyaan. Apalagi kemudian seolah ada paduan suara dari media mainstream dunia terhadap isu ISIS yang memberitakan bahwa ISIS adalah gerakan radikal fundamentalis.

Di negeri tercinta, isu ISIS kian nyaring terdengar sebulan terakhir. Diawali dengan karikatur provokatif The Jakarta Post yang bertemakan ISIS dan menghina Islam, isu ini terus bergerak liar. Terakhir, media nasional menuliskan berita seragam: ISIS adalah gerakan radikal Islam kepanjangan tangan Al Qaeda, merujuk pada pendapat Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mboi.

Kecurigaan adanya rekayasa isu ISIS menyeruak. Ketua Bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah, Teguh Santosa, menyatakan ISIS adalah teror gaya baru yang dikembangkan pihak-pihak anti-Islam yang ingin mendapatkan keuntungan dari destabilisasi kawasan Timur Tengah.

“Kami mengutuk keras aksi kekerasan dan teror yang dilakukan ISIS. Itu bertentangan dengan ajaran Islam,” kataa Teguh Santosa.

Teguh yakin bahwa ISIS adalah sebuah gerakan politik yang menggunakan topeng agama, karena mustahil orang yang peduli dengan tegaknya subtansi ajaran Islam berada di belakang gerakan ini.

Pemuda Muhammadiyah menyerukan kepada negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam untuk secara tegas menyikapi gerakan ISIS tersebut, agar jangan sampai gerakan ISIS menginspirasi umat Islam lain untuk melakukan hal yang sama. Teguh juga mengingatkan pemerintah Indonesia dan juga ormas-ormas Islam untuk mewaspadai gerakan ISIS merambah ke Indonesia.

Apalagi telah beredar luas rekaman berjudul “Join the Ranks” di mana seseorang yang mengaku warga negara Indonesia mengajak orang Indonesia untuk mendukung perjuangan ISIS.

“Kita jangan sampai kecolongan. Ini tak bisa didiamkan. Betul bahwa berserikat adalah hak setiap warga negara. Tapi cara-cara kekerasan tak bisa ditolerir. Pemerintah harus tegas terhadap itu,” kata pengajar hubungan internasional di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, itu.

Menyimak kelahirannya yang tiba-tiba, cara kekerasan yang dilakukan dan opini media mainstream yang mengarahkan pencitraan negatif terhadap Islam, sudah selayaknya kita patut curiga. Sangat mungkin ada sebuah agenda besar yang disiapkan untuk melanjutkan proyek memarginalkan Islam.

Tak bisa dihindari, sesuatu yang datang mendadak melahirkan syak wasangka. Persis seperti saat Jokowi tiba-tiba saja bicara tentang Palestina. Dan kini kita disuguhkan dengan mendadak ISIS.

Erwyn Kurniawan
Twitter: @Erwyn2002
Pemerhati Politik, Sosial, Agama