HAMAS dan Mitos Politik Indonesia

Mesir, 26 Agustus 2014. Sebuah mitos bahwa Zionis Israel tak terkalahkan akhirnya runtuh saat perundingan berujung gencatan senjata disepakati HAMAS (Harakah Muqawamah Islamiyah) dan pemerintah negeri Yahudi tersebut. HAMAS mengumumkan kemenangannya atas penjajah Israel bersamaan dengan diumumkannya kesepakatan tersebut.

Dalam sambutannya, juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan, “Berkat kemuliaan dari Allah, pengorbanan rakyat, dan kegigihan gerakan perlawanan, terutama Brigade Izzudin Al-Qassam dan gerakan-gerakan yang lain, hari ini kita nyatakan kemenangan kita atas kekuatan jahat Israel.”

Zuhri menambahkan, “Kita bisa meraih kemenangan yang selama ini belum bisa diraih oleh pasukan negara-negara Arab. Hari ini, rakyat Palestina yang terkepung dan lemah bisa menang atas kekuatan jahat Israel. Kita bisa menghancurkan pasukan yang katanya tidak pernah kalah.”

HAMAS telah membuktikan bahwa kedigjayaan Zionis Israel hanyalah sebuah mitos yang sengaja dihembuskan oleh media agar umat Islam menjadi inferior. Memang begitulah adanya mitos. Belum terbukti kebenarannya, tapi publik dipaksa untuk mengakuinya sebagai kebenaran.

Di Indonesia, teramat banyak mitos politik yang berseliweran dan secara masif didengungkan oleh banyak pihak (media, intelektual, lembaga survey, dll). Kebanyakan mitos politik tersebut adalah tentang partai Islam. Nada-nada miring dan stigmatisasi negatif ditembakkan ke tubuh partai, kelompok dan elit islam.

Bukankah kita kerap mendengar pernyataan bahwa partai Islam sudah tak laku?; Bukankah kita sering membaca bahwa masyarakat skeptis dengan partai Islam?; Bukankah kita pernah mendengar prediksi lembaga survey bahwa partai Islam tak akan lolos parliamentary treshold?; Bukankah kita juga sering mendengar bahwa partai Islam tak cocok dengan kebhinekaan?; Atau, partai Islam tak bisa menjadi pemenang pemilu? Saya akan sampaikan beberapa link pernyataan tersebut di atas.

Biasanya menjelang pemilu, hampir setiap hari mitos tersebut digaungkan ke publik. Tujuannya jelas: agar partai Islam menjadi kerdil, tak membesar dan rakyat apriori dengan partai yang membawa-bawa agama (Islam).

Keberhasilan HAMAS menghancurkan mitos keperkasaan Zionis Israel seharusnya bisa menjadi inspirasi dan triger bagi partai Islam di Tanah Air. Bahwa rentetan mitos yang terus dihembuskan kepada partai Islam tidak benar dan dapat dirobohkan. Lalu bagaimana cara mengalahkan mitos tersebut?

Membenahi diri agar bisa memantaskan diri sebagai partai pemenang pemilu adalah jawabannya. Bukan pekerjaan mudah tentu saja di tengah rimba belantara politik yang sarat jebakan dan godaan. Namun, jika kita sudah bertekad bulat, tak ada kata tak mungkin.

Jika para pengamat politik yang bergelar S2 dan S3 dari luar negeri begitu yakin bahwa partai Islam tak memiliki masa depan di Indonesia, saya justru berkebalikan dengan mereka. Kemenangan HAMAS bukan semata hancurnya sebuah mitos. Lebih dari itu, juga menjadi isyarat jelas bahwa pada ujungnya, kegemilangan akan berada dalam genggaman umat Islam termasuk di Indonesia. Persis seperti yang disampaikan Rasulullah saw bahwa di akhir Zaman kelak, akan berdiri kembali khilafah Islamiyyah setelah melalui periode kenabian, khulafaur Rasyidin, mulkan adhon (Raja yang menggigit) dan mulkan jabariyan (penguasa diktator).

Bersiaplah. Kemenangan akan segera hadir seiring runtuhnya mitos buruk partai Islam. Insya Allah.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Penulis tetap rubrik Refleksi Kabarumat.com