Karen Mundur, Jokowi Menang dan BBM pun Langka

Antrean BBM di sebuah SPBU. [foto: bekasibusiness.com]

Deretan panjang antrian motor yang akan mengisi bensin menjadi pemandangan biasa sepekan terakhir ini. Terjadi hampir di seluruh SPBU. BBM langka dan rakyat kecil kembali menjadi korban. Mengapa BBM mendadak langka?

Sebelum sama-sama kita analisa soal ini lebih jauh, mari simak penjelasan PT Pertamina terkait kelangkaan BBM tersebut. Kelangkaan terjadikarena PT Pertaminamulai mengatur penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebagai upaya untuk menghindari habisnya kuota BBM yang telah ditetapkan, yakni sebesar 46 juta kiloliter. Akibat “penjatahan” tersebut, terjadi kelangkaan BBM bersubsidi di berbagai daerah di Indonesia dalam beberapa hari ini.

“Habisnya alokasi harian BBM bersubsidi di SPBU pada sore hari (Minggu) merupakan konsekuensi logis dari pengaturan penyaluran BBM bersubsidi sesuai dengan sisa kuota yang telah ditetapkan dalam UU APBN-P 2014,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir di Jakarta, Ahad (24/8/2014).

Menurut Ali, pengurangan kuota BBM bersubsidi dari 48 juta kiloliter menjadi 46 juta kiloliter menjadi penyebab Pertamina melakukan pengaturan kuota per harinya. Menghadapi hal tersebut, kata dia, Pertamina hanya memiliki dua pilihan. Pertama, menyalurkan BBM bersubsidi secara normal dengan konsekuensi kuota BBM bersubsidi habis sebelum akhir tahun. Kedua, mengatur volume penyaluran setiap harinya sehingga kuota BBM bersubsidi bisa cukup hingga akhir tahun.

Penjelasan Ali Mundakir menjadi sangat penting. Saya mengibaratkannya sebagai kepingan puzzle yang hilang. Dan kini, gambar utuh terkait kelangkaan BBM ini telah tersusun rapi sehingga kita bisa menduga ada apa di balik fenomena ini.

Sekarang kita cermati isu dan peristiwa apa saja yang berkembang dua pekan terakhir ini selain soal ISIS. Ada beberapa isu yang berkelindan dengan BBM, yakni:

1. Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan mengundurkan diri

2. Jokowi-JK menang di Mahkamah Konstitusi

3. Presiden SBY menawarkan diri membantu presiden atau pemerintahan baru

4. Adanya tudingan Presiden SBY ingin ngerecoki Jokowi-JK

5. Tarik ulur rencana bergabungnya Partai Demokrat ke kubu Jokowi-JK

6. Jokowi-JK minta harga BBM dinaikkan oleh Presiden SBY

7. JK merasa kasihan dan prihatin melihat rakyat antri BBM

8. Pertemuan Presiden SBY dan Jokowi di Bali

Kita mulai dari penjelasan Ali Mundakir. Kata kuncinya adalah pengurangan BBM subsidi dari 48 juta kiloliter menjadi 46 juta kiloliter hingga akhir tahun. Hanya selisih 2 juta kiloliter!!!!! Dan masih tersisa 4 bulan lagi hingga akhir tahun 2014. Ada logika yang tak masuk akal disini. Antrian rakyat yang mengular di mana-mana seakan mengindikasikan bahwa pengurangan BBM subsidi itu lebih dari 2 juta kiloliter.

Ada apa ini? Jawabannya satu: tarik menarik kepentingan menjelang pelantikan Jokowi-JK. Presiden SBY tentu tak mau dikenang sebagai pemimpin yang di akhir masa jabatannya membuat langka BBM dan rakyat harus tersiksa dengan mengantrinya. Karena itu, opsi yang paling mungkin bagi SBY adalah dengan menunda kenaikan BBM sampai 20 Oktober 2014.

Kubu Jokowi-JK tentu saja tak mau mendapat bola muntah seperti itu. Maka dari itu, mereka kini mendesak Presiden SBY untuk segera menaikkan harga BBM. Dan salah satu skenarionya adalah dengan membuat BBM langka. Pada titik inilah kita bisa menduga siapa yang kini menguasai Pertamina dan mengapa Karen mundur.

SBY yang ahli strategi tentu saja tak tinggal diam. Tarik ulur terkait rencana bergabungnya PD ke Jokowi-JK pun dilakukan. Bahkan dilontarkan isu jika ada instruksi bahwa kader PD tak boleh menjadi menteri Jokowi-JK. Ya, SBY tahu persis, Jokowi-JK butuh partai lain untuk mengamankan kebijakan pemerintah di parlemen.

Nah, apakah pertemuan hari ini di Bali antara Presiden SBY dan Presiden Terpilih Jokowi akan menuntaskan ini semua? Kita tak tahu jawabanya. Satu hal yang pasti: rakyat masih terus mengantri untuk mengisi tangki bensinya.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Pemerhati Politik Islam dan Media