Lelaki Ksatria Peka Jiwa

Ilustrasi. [foto: consoleandhollawell.com]

Saya baru memiliki satu anak lelaki berumur hampir 4 tahun. Rasanya tidak pas jika saya membahas tentang pendidikan untuk anak laki-laki. Namun saya memiliki referensi tentang produk didikan seorang ibu dalam mendidik anak lelaki, di mana saya berinteraksi erat dengan anak-anak lelaki yang kini telah menjadi lelaki dewasa itu. Mereka adalah suami saya, juga tiga kakak lelaki saya.

Sejak kecil, meskipun ada pembantu rumah tangga, setiap hari ibu membagikan pekerjaan rumah dengan sangat rinci. Anak laki-laki maupun perempuan, semuanya mendapat bagian pekerjaan, tentu disesuaikan dengan umur masing-masing. Ada yang harus menyapu halaman, ada yang menyapu lantai, dan yang lain membantu bapak menimba air dari sumur. Tak ada satu pun anak lelaki yang bebas tugas. Malah ibu kadang melakukan progress report sore harinya, ”Kowe wis nyambut gawe apa dina iki?” (Kamu sudah bekerja apa hari ini?).

Berbagai jenis pekerjaan rumah itu secara berkala diputar jadwalnya. Yang tadinya bertugas menyapu halaman, berganti tugas mengepel lantai, dan seterusnya. Mungkin supaya tak cepat bosan. Bapak juga mencontohkan langsung bahwa seorang lelaki juga harus prigel dengan pekerjaan rumah. Saat kami balita, bapaklah yang bertugas memandikan anak-anak, sedangkan ibu sibuk memasak di dapur. Bapak juga yang mencucikan baju serta menimba air dari sumur untuk bak mandi.

Dari ibu mertua, saya belajar bagaimana beliau membiarkan anak-anak lelakinya tumbuh sebagai lelaki sejati yang kuat secara fisik, sekaligus pandai mengelola emosi. Ibu membiarkan anak lelakinya—suami saya waktu kecil—untuk ikut mencangkul di sawah, tidur di surau di samping rumah tiap malam, mandi di kali sehingga pandai berenang dengan sendirinya, hingga membakar belut dan membuat sambel sendiri. Suami saya pernah bercerita, saat panen tiba untuk mendapatkan segelas dawet segar sementara dia tak punya uang, dia harus rela mengumpulkan jerami sisa panen beberapa ikat lalu dibarter dengan segelas dawet ke penjualnya.

Beberapa pekan setelah kami menikah, bahkan ibu kandung saya sendiri terheran-heran saat suami lihai ’nylumbat’ (menguliti sabut kelapa dengan linggis) sehingga spontan berkomentar, ”Ealah, kok bisa nylumbat segala?”. Begitulah, tak ada pekerjaan yang tabu bagi suami. Seperti bapak saya yang setiap hari justru memilih untuk mencucikan baju seluruh anggota keluarga, suami saya pun berlaku demikian saat kami baru memiliki anak dan tak ada pembantu rumah tangga.

Maka, dari sana dapat dipetik satu garis hikmah pendidikan. Bahwa melatih anak lelaki dengan berbagai pekerjaan rumah tangga itu sangat penting. Jika kita tak membiasakan anak lelaki sedari kecil bekerja membantu urusan rumah tangga, sering saat dewasa dan menjadi kepala keluarga, jiwanya akan tak peka dengan menggunungnya pekerjaan istri tercinta. Mungkin, ada juga tipe yang lebih baik, tapi kadang terhenti pada tataran kata “Ada yang bisa kubantu?”. Sayangnya, karena memang pengasuhan sejak kecil dan budaya setempat mungkin tak membiasakannya, tangannya tak cekatan dan tak terbiasa bersegera.

Di sisi lain, ibu mertua juga seorang yang sangat akomodatif pada anak-anaknya. Apapun permintaan anak, selama itu masih dalam batas kewajaran, akan coba dipenuhi. Jika belum mampu karena terbatasnya dana atau waktu, dengan lembut ibu akan berkata, ”Besok ya, kalau sudah ada uang kita beli”. Tidak ada kalimat dengan nada tinggi dan banyak larangan ini itu yang membuat anaknya merasa tak nyaman. Hal itu pulalah yang saya lihat pada suami. Meskipun lelah pulang kantor, servisnya pada anak-anak tetap membuat saya terpesona.

Selain itu, suami juga sangat sayang pada ibunya. Kedua matanya mudah sekali menyungai jika kami mengobrol ringan tentang ibu. Dan itu saya yakini sebagai wujud kecintaanya pada ibunya. Maka bagi saya, mendidik anak laki-laki haruslah sampai ke arah sana.

Ada dua hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini. Pertama, laki-laki yang sayang dan hormat pada ibunya, insya Allah juga akan penuh sayang dan memuliakan saat dia kelak memiliki perempuan yang menjadi amanahnya, istrinya. Kedua, laki-laki tak pantang untuk menangis. Menangis dalam batas yang sewajarnya adalah tanda bahwa dia lembut hatinya. Kelembutan hati itu akan sangat diperlukan saat dia menjadi pemimpin keluarga. Maka ia akan menjadi lelaki dewasa yang ksatria, tegar dan mengayomi seluruh anggota keluarga, tetapi juga lembut hati dan peka jiwa terhadap anak-istrinya tercinta.

Muktia Farid,
Dosen PAUD Universitas Terbuka,
Ibu dari 3 putri dan 1 putra,
Aktif mengisi seminar parenting dan kemuslimahan