Terima Kasih Jokowi

Joko Widodo dan Jusuf Kalla. [foto: sayangi.com]

Sah sudah Jokowi-Jusuf Kalla memimpin negeri ini seiring ayunan tangan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva yang mengetokkan palu ke meja sidang. Drama hukum pilpres pun berakhir. Dan satu kata harus kita ucapkan kepada Jokowi: terima kasih.

Terima kasih Jokowi.
Saya teramat yakin keberhasilan Anda menjadi RI-1 merupakan takdir Allah. Nama Anda sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Ada campur tangan Allah di balik kesuksesan Anda. Karena itu, realitas bahwa Anda seorang presiden harusnya meningkatkan keimanan kami kepada Allah. Membuat aqidah kami kian kokoh. Bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan, apalagi untuk urusan memilih pemimpin di negeri yang mayoritas muslim.

Terima kasih Jokowi.
Terlepas dari pencitraan massif terhadap diri Anda, saya akhirnya berani menyimpulkan bahwa rakyat merindukan sosok pemimpin yang apa adanya dan sederhana. Hal ini yang justru mulai dilupakan oleh segelintir tokoh yang kebetulan beragama Islam. Gaya hidupnya tiba-tiba berubah drastis saat menjadi pejabat. Sikapnya angkuh dan menjaga jarak dengan masyarakat. Sebab itu, ungkapan terima kasih patut disampaikan kepada Anda karena dapat menyadarkan kami tentang bergaya hidup sederhana.

Terima kasih Jokowi.
Keberadaan Anda menjadi presiden telah menyadarkan kami bahwa ada yang salah dalam cara kami berdakwah. Ada cara kami yang belum benar dalam cara kami berislam. Anda yang digempur habis-habisan dengan disebut antek asing, komunis, Yahudi, tukang bohong, tapi mayoritas bangsa ini masih memilih Anda sebagai pemimpin. Tak ada yang lebih tepat selain mengatakan bahwa ini terjadi tersebab masih belum ada formula tepat kami dalam berdakwah. Bahkan bisa jadi karena kami, umat Islam dan para tokohnya belum memberikan teladan sehingga lebih percaya kepada Anda.

Terima kasih Jokowi.
Sukses Anda mengingatkan saya pada kekhawatiran Rasulullah saw 14 abad silam bahwa umat Islam akan seperti buih di akhir zaman. Hari ini, kami betul-betul buih, nahnu ghutsaa. Kami adalah umat yang centang perenang.

Kami memang mayoritas di negeri ini. Tapi hanya dalam angka statistik, tak lebih dari itu. Angka-angka itu hanya realitas sosiologis tapi bukan fakta politik. Dan karena kami adalah buih, bukan hanya kami harus menerima realitas bahwa Jokowi adalah presiden kami, tapi juga kami memiliki gubernur di ibukota negara ini yang dari non muslim.

Adakah kata yang lebih tepat lagi selain ucap terima kasih kepada Jokowi? Allah menghadirkan Jokowi agar pemimpin dan umat Islam sadar bahwa hobi berkerumun sudah harus ditinggalkan. Saatnya kita mulai gemar membuat barisan yang rapi dan kokoh.

Jika itu tak juga dilakukan, pada 2019 nanti umat Islam terpaksa harus mengucapkan kata terima kasih kembali. Bisa kepada Jokowi atau tokoh lain yang disiapkan untuk menggantikannya.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002