JK, Karen, dan Telepon yang Disadap

[foto: timlo.net]

Selasa, 17 Juni 2014. Rentetean keluhan terucap dari pengusaha kripik tempe di Jalan Sanan Raya, Kecamatan Belimbing, Malang, Jawa Timur. Mendengar itu, Jusuf Kalla dengan sigap mengeluarkan iPhone 5-nya dari balik saku bajunya. Ia segera mencari nama Karen Agustiawan, Direktur Utama Pertamina di ponsel pintarnya. “Tunggu, ya, Ibu,” kata Kalla sambil menekan tombol speaker ponsel.

Sesuatu yang sama sekali tak diduga JK terjadi. Telepon Karen dijawab operator. “Maaf, nomor telepon yang Anda hubungi tidak bisa dijawab. Mungkin sedang disadap,” jawab operator.

Mimik JK seketika berubah. Ia tersenyum kecut mendengar kalimat operator. Ibu-ibu pengusaha hanya melongok ke telepon seluler JK. “Mungkin beliau sibuk,” kata JK berusaha mengalihkan perhatian. Ia mencoba menghubungi Karen lagi, tapi tidak bisa tersambung. “Nanti saya akan bicarakan dengan Pertamina.”

Yuddy Chrisnandi, anggota Tim Pemenangan Jokowi-JK yang berdiri di samping kanan mantan wakil presiden itu, membenarkan kalimat yang dilontarkan operator. Ia menyatakan JK masih berstatus sebagai pejabat negara, sehingga kemungkinan ponselnya dipasangi alat pengaman negara. “Mungkin telepon Bapak (JK) disadap atau yang ditelepon yang disadap,” tuturnya berseloroh.

Hari itu, JK sedang berkampanye sebagai calon wakil presiden. Dan para pengusaha kripik tempe merasa mendapat momentum yang tepat untuk mengeluhkan gas elpiji 3 kilogram yang dinilai tidak diisi dengan penuh. Akibatnya, pengusaha merugi karena cepat kehabisan gas elpiji. “Buktinya, dulu kami masih bisa pakai gas elpiji ini selama enam jam, sekarang tinggal 4,5 jam saja,” ucap Tini Karim, salah satu pengusaha kripik.

Penggalan kisah yang dimuat di “JK Telepon Dirut Pertamina, Operator: Disadap” ini tiba-tiba saja menyeruak saat Karen agustiawan secara resmi mengundurkan diri sebagai orang nomor satu di Pertamina per 1 Oktober 2014. Bantahan adanya tekanan dilontarkan banyak pihak, termasuk Menko Perekonomian Chairul Tanjung.

“Saya sebagai Menko tahu persis tidak ada tekanan apapun terkait Pertamina, apalagi yang berbau politik atau kebijakan ekonomi,” imbuh Chairul.

Chairul mengatakan, pernyataannya tersebut sebagai penegasan lantaran banyak pemberitaan di luar yang tidak sesuai kontekstual. Dia bilang, banyak pemberitaan yang membelokkan alasan pengunduran diri Karen disebabkan tekanan politik dan tekanan pemerintah. (CT: Karen Mundur Bukan karena Mendapat Tekanan)

Tapi nada berbeda disampaikan Bekas Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu menduga pengunduran diri Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan cukup mengejutkan. Ia memperkirakan pengunduran diri Karen lantaran perempuan itu tak kuat menghadapi tekanan.

“Saya tahu beliau sangat profesional, mungkin hanya tidak kuat menahan tekanan dan ketidaktegasan pemerintah,” kata Said saat dihubungi, Senin, 18 Agustus 2014. (Said Didu: Karen Mundur karena Tak Kuat Tekanan)

Lalu apa kelindan antara kisah JK yang menelepon Karen? Saya tentu saja tak berani menyimpulkan bahwa tekanan itu berasal dari JK. Tapi sangat menarik dicermati, JK yang hanya seorang cawapres dengan cekatannya menelepon Karen. Bisa dibayangkan seberapa dahsyat tekanan yang diterima Karen. Seorang cawapres saja bisa meneleponnya, apalagi capres, atau presiden, atau wapres, atau…..

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Pemerhati Politik Islam dan Media