Gigih

Anak murung. [foto: viva]

Suatu hari anak pertama saya ngambek, tidak mau sekolah. Beragam alasan dia ungkapkan. Saya mengajaknya berdialog untuk mematahkan alasan-alasan yang ia lontarkan.

Setelah beberapa lama ia mulai luluh. Ia memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Setibanya di depan kelas, tiba-tiba ia mengambek lagi. Ia menangis sambil berteriak,” Faza tidak mau sekolah.” Saya hampir kehabisan akal. Beruntung Ibu Guru segera datang dan langsung menggendongnya masuk ke dalam kelas.

Setiap orangtua pasti akan menghadapi ini, dalam waktu dan peristiwa yang berbeda. Anak-anak kita bisa saja merengek meminta dibelikan makanan saat kita ajak ke supermarket; meraung-raung meminta dibelikan mainan; menolak belajar; tidak mau mandi; tak mau sikat gigi , dan sebagainya. Dan kita, dengan mudahnya memvonis mereka sebagai keras kepala, nakal, tukang ngambek, manja, dan lainnya.

Sesungguhnya bukan itu yang terjadi. Allah menciptakan anak-anak kita dengan sifat-sifat positif yang tak terhitung. Anak-anak kita tak didesign menjadi anak yang keras kepala, nakal dan sifat negatif lainnya. Kita lah yang menjadikan mereka memiliki sifat-sfat buruk tersebut. Ketika anak kita berkukuh tak mau sekolah, meminta dibelikan makanan atau mainan dan tidak mau belajar, itu adalah cermin dari sikap gigih, pantang menyerah.

Mereka berusaha mempertahankan apa yang mereka yakini. Tidak mau sekolah, ya tidak mau sekolah. Tidak mau belajar, ya tidak mau belajar. Kalau minta mainan, ya harus dibelikan. Agar tujuannya tercapai, mereka melakukan berbagai cara: dengan menangis, merengek, ngambek, dan lainnya.

Sayangnya, kegigihan dan pantang menyerah ini semakin hilang saat mereka beranjak dewasa. Menghadapi masalah sedikit langsung menyerah. Kesulitan mengerjakan soal ujian, segera menyontek. Susah mendapatkan uang banyak dengan halal, langsung korupsi.

Beragam faktor menjadi penyebabnya. Dan salah satunya yang berperan besar adalah kesalahan kita dalam menangani mereka sejak kecil. Kata-kata yang terlontar dari mulut kita: keras kepala, nakal, tukang ngambek, akhirnya tersugesti pada diri mereka.

Tanpa kita sadari, sejak dini kita telah menanamkan sifat-sifat negatif pada diri anak kita sendiri, buah hati kita. Kita kerap memproduksi kata-kata yang kelak akan mengendurkan semangat pantang menyerah mereka.

Ingatkah kita dengan kata-kata yang terucap dari seorang kakek saat mengomentari cita-cita kedua cucunya: Wright bersaudara, yang ingin membuat pesawat terbang. “Hanya malikat yang dapat terbang,” kata si kakek. Beruntung, kedua cucunya tak menggubrisnya. Mereka terus bereksperimen hingga akhirnya berhasil membuat pesawat terbang.

Bayangkan, jika Wright bersaudara terpengaruh, mungkin hingga kini tak akan pernah ada pesawat terbang.
Seandainya tanpa disadari kita terlanjur memvonis anak-anak kita dengan kata-kata negatif, berdo’alah agar itu tak berpengaruh pada kehidupan mereka di kemudian hari. Dan semoga mereka seperti Wright bersaudara yang terus berjuang membuat pesawat meski dicemooh oleh kakeknya.
Wallahu a’lam bishshowab.

Erwyn Kurniawan