Tak Ada 69 Di Bali

Ilustrasi. [foto: duniaterkini.com]

Sabtu, 16 Agustus lalu, dua pejabat teras negeri ini mengaku terharu usai mendengar Pidato Kenegaraan Presiden SBY di Gedung MPR/DPR. Mereka adalah Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Sama seperti keduanya, saya pun terharu meski tak mendengar pidato SBY.

Rasa haru saya bisa jadi juga dialami oleh jutaan umat Islam lainnya di negeri ini. Sebab apa saya terharu?

Ya, di saat Presiden SBY memaparkan keberhasilannya selama menjadi orang nomor satu di negeri ini, lalu mengucapkan selamat atas Hari Kemerdekaan ke-69 RI dan disambut dengan gemuruh tepuk tangan, saya teringat dengan derita yang dialami umat Islam di Bali. Saya tak bisa memaknai kemerdekaan jika mengingat itu. Karena di Pulau Dewata itu, saya menyaksikan masih adanya “penjajahan” kepada umat Islam.

Larangan jilbab di sekolah, diikuti dengan surat edaran Hypermart agar karyawan muslim untuk tidak memakai pakaian muslim membuat kemerdekaan di negeri ini kehilangan makna. Apalagi kemudian muncul wacana tolak perbankan syariah oleh tokoh Hindu setempat.

Isu semacam ini, yang merugikan umat Islam, tak akan pernah tampil di media mainstream. Kalaupun akhirnya muncul, isi beritanya justru membela kelakuan orang yang melarang jilbab.

Simak saja berita www.detik.com hari ini. Mengutip Dirjen Bimas Hindu, portal berita ini menulis bahwa masih ada toleransi di Bali dan media memberitakan terlalu berlebihan isu larangan jilbab.

Adanya larangan jilbab dan media mainstream yang hobi menyudutkan umat Islam menjadi sebab mengapa saya terharu, bukan karena pidato SBY.

Di negeri ini, umat Islam yang mayoritas masih saja belum merdeka. Dan di Bali yang kerap menasbihkan dirinya sebagai wilayah anti diskriminasi dan pluralisme justru berlakon sebaliknya.

Hari Kemerdekaan ke-69 negeri tercinta menjadi nir makna. Karena tak ada 69 di Bali. Apakah Priyo dan Dahlan terharu juga karena ini?

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002
Pemerhati Politik Islam dan Media