Sungai Di Bawah Laut, Mungkinkah?

Sungai bawah laut di Cenote Angelita, Meksiko. [foto: widephotos.com]

Sungai dan laut memiliki ciri khas masing–masing. Jika dilihat dari berbagai segi, baik komposisi mineral dan kandungan zat–zat lainnya, maupun organisme yang hidup di dalamnya. Mungkinkah ada sungai yang mengalir di bawahnya?

Sejak puluhan tahun yang lalu, tak seorang pun berusaha mengungkap kemungkinan akan adanya fakta tersebut. Walau pun ALLAH sudah mengisyaratkan itu sejak 14 abad silam dalam ayatnya yang berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .” Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” ( Q.S.Ar Rahman : 19-20) dan surat Al Furqan ayat 53 yang artinya : “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

Sampai akhirnya seorang mantan Perwira AL Perancis, Jacques-Yves Cousteau yang lahir 11 Juni 1910 di Saint-André-de-Cubzac, Perancis yang juga seorang oseanografer, dan peneliti serta anggota Académie française bersama Emile Gagnan mencipta alat pernapasan bawah air berdasarkan muatan udara yang dimampatkan dan disimpan dalam tangki yang dikenal sebagai paru-paru air Aqua-lung (SCUBA). Alat ini telah digunakan oleh pihak Sekutu untuk membersihkan perairan internasional dari periuk api musuh semasa Perang Dunia II. Jacques Costeau juga melakukan teknik penggambaran bawah air yang digunakan olehnya untuk menghasilkan film dokumenter mengenai kehidupan under the sea dan banyak menceritakan keaneka ragaman organisme bawah laut dan kehidupannya.

Dalam ekspedisi bawah lautnya di daerah Cenote Angelita, Mexico ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Walau pada awalnya, Costeau sempat berpikir, kalau hal tersebut hanya halusinansinya semata saat menyelam di kedalaman laut tertentu, tapi instink penelitinya berbicara dan berusaha mengungkap fenomena ganjil yang ditemuinya.

Tak mudah memang membuktikan sebuah kebenaran. Tapi akhirnya ALLAH memberi petunjuk Costeau sehingga bertemu dengan seorang profesor Muslim. Seperti yang diceritakan dalam voice of islam, setelah Costeau menceritakan fenomena ini, Sang Profesor pun mengingatkan pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez dan surat Al Furqan ayat 53.

Sungguh sebuah fenomena yangmemberikan pesona luar biasa bagi seorang peneliti seperti Costeau dan kekagumannya itu bertambah-tambah lagi setelah mendengar ayat alqur’an yang sudah mengungkapkan hal tersebut, lebih dari ketika dia menemukan pemandangan ajaib di bawah lautan sehingga dia menyimpulkan bahwa al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Dan seketika itu pula ia lantas meyakini bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar hingga akhirnya hidayah ALLAH menuntunnya kembali ke dalam rengkuhan ISLAM.

Dan fenomena itu kembali diungkapkan oleh Davis Richard A, Jr. dalam Principles of Oceanography. Penyebabnya dikarenakan gaya fisika yang dinamakan ‘tegangan permukaan’, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.

Saat dimana ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia belum menguak tabir misteri ini, disaat itu Al Qur’an telah mengungkapkannya. (Ipu Puspita Dewi)