Di Balik Ukhuwah Semut

[foto: revolusiilmiah.blogspot.com]

Sepintas, terlihat dari kejauhan, garis tipis yang membentang dari satu sudut ke sudut lainnya. Setelah diamati ternyata bukan sekedar garis biasa, melainkan barisan hewan kecil yang biasa dikenal dengan nama SEMUT.

Barisan hewan dari kelompok serangga ini tampak beriringan satu dengan lainnya. Tapi, setelah diamati lagi, ternyata mereka tidak hanya berbaris rapih nan teratur. Tampak diantara mereka membawa butiran makanan di atas kepalanya sambil sesekali mereka bertegur sapa seakan mengucap salam kepada kawanan semut yang lain.

Belum lagi berakhir decak kagum yang terkulum, sapuan mataku melihat ke pusat kumpulan semut yang mengelilingi sebuah belalang yang cukup besar. Mungkin besarnya ratusan kali lipat ukuran tubuh si-semut itu sendiri. Tapi, dengan gigih dan seakan ada yang mengomandoi, belalang tersebut dapat bergeser dari tempat ia ditemukan mati.

Subhanallah… sungguh sebuah fenomena alam yang bisa kita petik pelajaran dan diambil nilai–nilai kehidupan di dalamnya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ‘ulil albab’(orang-orang yang berakal), yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata)’ ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS.3 :190).

Tidaklah Allah menjadikan ini dengan tanpa makna. Bahkan hewan ini dijadikan salah satu ikon surat di dalam Alqur’an, An Naml (semut).

Marilah sejenak kita renungkan karakter-karakter yang bisa diambil dari semut :

1. Disiplin
2. menumbuhkan sikap 4 S (salam-sapa-sopan-santun)
3. Giat bekerja
4. Berbagi
5. Bermanfaat bagi yang lain
6. Ta’at
7. Team Building
8. Ikhlas
9. Cerdas
10. Patang menyerah/gigih

Tak dapat dipungkiri, kumpulan semut itu berbaris dengan rapih. Mengikuti feromon yang ditebarkan oleh saudara mereka. Seandainya mereka keluar dari barisan, dan tak mengikuti jejak yang ditinggalkan kawananya, pastilah akan tersesat jalan.

Sikap disiplin inipun terlukis jelas ketika mereka diberikan job description masing-masing. Sang ratu bertugas melakukan reproduksi,ada semut pejantan, dan semut pekerja. Laksana barisan militer tanpa komando, mereka menjalankan tugasnya masing-masing dimanapun mereka berada meskipun tanpa pengawasan pemimpinnya.

Adanya hormon feromon dan antena pada tubuh semut yang kiranya dijadikan sinyal pemberitahuan adanya sumber makanan sehingga mereka dapat berbagi. Caryle P. Haskins, Ph.D., kepala Institut Carnegie di Washington mengatakan bahwa setelah berpuluh tahun mengamati dan mengkaji dia masih takjub melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut. Semut merupakan model nan indah yang bisa digunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan, katanya.

Semut merupakan organisme non soliter yang bisa mengajarkan kita banyak hal dan dengan caranya sendiri mereka selalu bertasbih memuji Dzat yang telah menciptakannya.

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” [Q.S. 27:18.]

“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” [Q.S. 27:19]

Ipu Puspita Dewi, S.Si
Guru Biologi di SMP Al Muslim Tambun, Bekasi