Menanti Akhir Drama Pilpres

Joko Widodo dan Prabowo Subianto. [foto: iberita.com]

Jalan panjang penuh kelokan harus dilalui pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla untuk tiba di Istana Negara. Usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil Pilpres, drama tak serta merta berakhir. Terindikasi banyak kecurangan, tim Prabowo-Hatta menjadikan KPU sebagai tergugat di Mahkamah Konstitusi (MK). Bagaimana drama ini berakhir?

Jawabannya akan mulai terkuak dalam sidang perdana, Rabu 6 Agustus ini di MK. Bukti-bukti telah disiapkan tim Prabowo-Hatta. Dari bukti tersebut mereka menyimpulkan telah terjadi kecurangan yang sistematis, terstruktur dan massif. Karena itu, mereka percaya diri bisa memenangkan gugatan dan menganulir kemenangan Jokowi-JK.

Gugatan Prabowo-Hatta memang tidak main-main. Mereka didukung dengan data Form C -1 dari saksi yang berasal dari kader PKS yang terkenal dengan militansi dan kerapihan kerjanya. Tak heran jika pengacara senior yang ditunjuk KPU Adnan Buyung Nasution mengatakan bahwa gugatan ini berat.

KPU sendiri terus menyiapkan diri menghadapi kasus ini. Bahkan mereka “terpaksa” membongkar kotak suara yang menurut banyak pengamat tak bisa dibenarkan. Tindakan ini membuat kecurigaan kepada KPU yang tidak netral kian menguat.

Pilpres kali ini yang hanya ada dua kontestan memang telah membelah Indonesia ke dalam dua kutub. Nuansa ideologis pun terasa kental terutama saat ada pihak-pihak tertentu yang melakukan kampanye hitam kepada Prabowo-Hatta dengan cara menistakan Islam. Maklum, hampir semua partai Islam bergabung dalam Koalisi Merah Putih mendukung Prabowo-Hatta.

Bola kini di tangan MK. Kita sangat percaya, para Hakim Konstitusi akan menggunakan nuraninya dalam memutuskan perkara tak mudah ini. Rakyat membutuhkan pemimpin yang terpilih melalui proses yang fair, bersih tanpa kecurangan. Kepada MK harapan itu kini diletakkan agar drama ini berakhir dengan happy ending. Semoga.

@Erwyn2002